Malam mulai merangkak senja. Angin dingin menyelusup celah apa saja. Akh, mataku tak mau berkompromi rupanya. Tubuhku menggeliat. Susah tidur. Lantas, kupicing-picingkan saja mata. Akh, tak tertidur juga. Lalu aku beringsut menuju kamar mandi. Berwudhu. Tilawah. Sholat dua rakaat. Bakda itu, aku bersijengkat membaringkan badan. Perlahan kantuk menyergap. Mata mulai mengatup. Sesekali menguap. Lalu tiba-tiba saja terlelap. Tapi,tunggu! Apa benar aku tertidur, bersebab tiba-tiba saja aku berada dalam lorong yang gelap. Tak ada sinar. Aku meraba melangkah. Tempat ini, terasa begitu asing bagiku. Seketika ketakutan mengguncang. Bagaimana jika ini liang kubur? Bukankah kubur itu gelap? Ya Allah, aku teringat dosa, belum sempat kutebus segalanya. Bukan kematian itu yang kutakutkan tapi persiapan yang tak ada menjadi kekhawatiran. Allah, aku menyebut asmaNya sambil meraba jalan.
Entahlah, entah dari mana cahaya itu. Awalnya hanya setitik lalu membesar, besar dan semakin besar. Teranglah semua. Mataku silau. Sama saja tak bisa melihat. Dalam pandangan samar itu, seekor kuda menghampiri, tinggi, kuat. Warnanya putih. Aku terperangah, tak percaya dengan apa yang kulihat. Allahu akbar! Gumamku. Decak kagum itu kian mengguncang ketika kuda itu meringkit dan mengangkat kaki depannya. Gagah sekali! Dan ini yang membuatku terperangah hebat. Kuda itu bersayap. Ya, binatang itu bersayap. Aku tertegun! Apakah ini fantasiku? Aku seperti berada dalam negeri dongeng. Bukankah kuda bersayap ada dalam cerita dongeng. Aku ingat, vegasus nama kuda ini. Serupa betul dengan kuda negeri dongeng. Kuda itu meringkik lagi. Perlahan ia kibaskan sayapnya. Oh, indah sekali! Kibasanya menyapu udara. Lalu melayang, kuda itu terbang. Tinggi. Aku hanya mendongak wajah. Tempat itu kembali gelap. Aku tergeragap. Ingin menjerit, tapi bibirku kelu. Ini dimana? Apa aku bermimpi atau berkhayal?
(Mimpi yang sampai detik ini tak mampu kusibak hikmahnya. Yang berkelakar adalah sebuah tanya ; benarkah Vegasus itu ada?)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar