Aku Bercerita Padamu Tentang Ibuku
(Dimuat pada harian Medan Bisnis, 03102010)
Oleh : Abdillah Putra Siregar
Jika kau tanya siapa orang yang paling kejam dalam hidupku. Maka, aku akan menjawab : ibuku. Kau pasti heran! Mengapa bisa aku berkata setega itu?
“Apa kau tidak takut dicap anak durhaka? Atau apa kau tidak tahu kasih ibu sepanjang masa ?” akh, itukan yang ingin kau bilang.
Tapi aku sudah punya jawaban pamungkasnya. Aku akan bilang pada kalian tidak semua ibu seperti itu, buktinya ibuku. Dulu, ketika aku baru berumur lima bulan, perempuan itu hampir saja membunuhku. Bayangkan, ia hendak membakarku hidup-hidup. Ia ingin mengajakku mati bersamanya. Bukan itu saja, pipi, lengan dan paha kecilku membiru lebam akibat cubitannya. Kontan saja, aku kecil menangis meratap-ratap tengah malam.
Tentang ia yang ingin membakarku hidup-hidup itu. Untung saja tertangkap basah oleh tetanggaku, Mbok Karsih. Entah bagaimana ceritanya ketika perempuan itu tengah memandikanku dengan seliter bensin, si Mbok datang dan memergoki aksi nekad perempuan itu. Si Mbok memekik, warga kampung rusuh. Berdatangan ke rumahku dan menggelandang perempuan itu ke kantor polisi setelah sebelumnya hampir babak belur dihakimi massa. Warga kampung tak senang senang atas perbuatan biadab ini. Lantas perempuan itu dipidana atas tuduhan penganiayaan bayi. Ia sempat membela diri. Dihadapan para wartawan ini berkelakar
“Saya hanya ingin kebahagian yang sejati untuk anak saya, di surga sana !”
Ada –ada saja ibuku itu. lalu aku diasuh oleh si Mbok, ialah selama ini wanita yang kukira telah melahirkanku sebelum ia menceritakan semuanya tentang aku dan ibuku. Ia lebih dari seorang ibu bagiku. Diusiaku yang tengah beranjak angka empat belas, tak pernah sekalipun si Mbok memarahiku.
Aku dan si Mbok tinggal di perkampungan kumuh pinggiran kota ini. Akh, tak usah kau tanya dan tak perlu pula kuceritakan tempat ini, mungkin kata ‘kumuh’ sudah cukup menjejeli imajimu betapa busuknya tempat aku dibesarkan ini.
Jika kau tanya , apakah aku menyimpan rindu pada ibuku. Maka, aku yakin kau sudah tahu jawabannya. Betapa aku sangat tidak merindukan perempuan itu! Bahkan bagiku ia sudah lama mati dibalik terali besi. Mampus!
***
Menurut penuturan si Mbok, ibuku adalah seorang pelacur kelas kakap. Ia terkenal cantik di perkampungan ini. Bapaknya meninggal akibat TBC lalu disusul 3 bulan kemudian oleh ibunya. Usia ibuku baru lima tahun saat itu. Lantas, ia tinggal bersama perempuan bernama Miranda. Rumah perempuan yang selalu berpakain mini dan berdandan menor ini sampai sekarang masih disamping rumah si Mbok. Disanalah ibuku dibesarkan. Entah apa yang dicekoki oleh si Miranda ini sampai akhirnya ibuku menjadi pengikut setia jalan hidupnya. Jika ditanya mengapa jadi pelacur. Maka alasan klise adalah jawabannya : susah mencari kerja di negeri ini.
Dulu, ibuku biasa mangkal di lapak tuak Bang Luhut, yang terletak di ujung gang kampung kumuh ini. Bahkan ia akan betah duduk seharian disana, meladeni para pria paruh baya berperut buncit. Orang-orang kampung kumuh tak ada yang ambil peduli. Bagi mereka ini biasa saja. Bahkan budaya kumpul kebo sudah dianggap biasa dan mendarah daging turun temurun. Menikah bagi warga kampung kumuh tak harus pakai wali , saksi dan tuan kadi. Jadi jika suka sama-suka, mantablah itu!
Apalagi soal makanan, jangan kau larang jika kau melihat seorang ibu mengutip bangkai ayam dibalik onggokan sampah. Jangan pula kau heran jika ia akan memasak dan memakan bangkai itu bersama keluarganya. Jangan pula kau katakan haram, pasti caci maki yang akan segera menyepuh telingamu. Kami tak butuh ocehan.
Kembali pada kisah ibuku. Ia memilih tinggal serumah dengan Bang Luhut.
Padahal ia tahu si Luhut itu tukang kawin, anaknya berserakan dimana-mana. Sampai akhirnya ibumu hamil. Aih, ia malah ditendang. Bang Luhut bosan. Dan mungkin akulah pelampiasannya. Akh, dasar ibu gila!
***
“Aku ibumu, Nak” selak seorang perempuan kurus bermata cekung. Kulitnya putih. Rambutnya berkeringat. Lepek.
“Ibu!” gumamku. Pandanganku kulempar pada dua bola mata si Mbok. Meminta penjelasan. Nihil, mata si Mbok hanya berkaca-kaca,
Ia diam. Aku diam. Perempuan kurus itu menggelar air mata.
“Peluk ibu, Nak!” pintanya parau.
Aku diam. Tubuhku kaku. Jika benar kau ibuku. Sudah lama aku menganggapmu mati. Tak cukupkah luka yang sudah kau toreh di hatiku? Tak ingatkah kau dulu pernah memandikanku dengan seliter bensin?
“Ibuku, sudah mati!” aku berkelakar kejam.
“Sendo, kau tak boleh berkata seperti itu, dia ini ibumu” nasihat si Mbok.
Aku melenggos. Napasku memburu. Dadaku turun-naik. Kusambar kaos kumal yang tergeletak lusuh di atas meja satu-satunya milik kami.
***
“Apa dia tahu kejadian dulu, Mbok?” tanya perempuan itu dengan air mata kejar mengejar.
Si Mbok menganguk saja.
“Dari mana ia tahu, Mbok? Tanyanya lagi.
“Aku yang ceritakan”
“Kenapa si Mbok ceritakan?”
“Anak itu harus tahu masa lalunya, biar dia tidak melakukan hal yang sama seperti yang pernah menimpa dirinya dan tindakan bodoh yang pernah kau lakukan!”
“Mbok lihatkan! Sekarang ia malah membenciku” selak perempuan itu.
“Kau memang pantas untuk dibenci, ini semua salahmu!” ujar si Mbok kejam.
Ia diam.
***
Aku duduk tepekur sendiri di balik tumpukan sampah yang menggunung. Bau busuk yang menguar itu tak kuhirukan. Bahkan penciumanku sudah terbiasa dengan semua ini. Entah mengapa bayang perempuan itu masih saja melintas di retinaku. Aku Bukan ingin meratapi nasib. Bukan. Hanya saja aku tak pernah berharap bertemu dengan perempuan yang mengaku ibuku itu. melihatnya tadi, aku seperti melihat wajahku di cermin. Wajahku-wajahnya jadi satu. Ia benar ibuku, tapi tetap saja, kebencian yang telah mendarah daging itu begitu kuat mematri hatiku. Tak mudah bagiku untuk memaafkannya. Kini ia datang. Memintaku mengakuinya sebagai ibuku. Brengsek! Sekarang aku ingin bertanya padamu ; apakah ada ibu yang memandikan anaknya dengan seliter bensin? Jika ada , yakinlah! Dia bukan seorang ibu melainkan perempuan gila yang mengaku ibu.
“Sendo, pulanglah! Perempuan itu sudah pergi”
“Mbok, tidak bohong kan?”
Si Mbok menggeleng,
“Apa kau tak akan memaafkannya?”
“Tidak akan, Mbok?” kelakarku emosi.
***
Pagi masih begitu belia ketika perempuan itu menjegatku di lorong ujung kampung kumuh. Aku tak peduli. Terus saja aku berjalan.tapi ia mengejar langkahku. Menghadangku dari depan. Aku bersirobok denganya. Mata kami saling beradu. Sekilas saja, karena aku langsung melempar jauh pandanganku kesamping.
“Nak, ibu ingin minta maaf !” ujarnya.
Aku tak peduli. Semakin kukayuh cepat langkahku. Perempuan itu berjalan tergesa.
“Sendo, tunggu!” panggilnya.
Mau apa lagi perempuan brengsek ini.
“Ibu akan mengantarmu menemui ayahmu!” bujuknya. Langkahku terhenti.
Ayah! Si Luhut itu. bukankah ia telah lama mati? Lagipula untuk apa aku bahkan tak pernah terpikir tentang sosok itu. Hatiku berujar sendiri.
“Ikut aku!”
Lantas aku mengikuti saja kemauanya. Kulangkahkan kakiku kemana ia melangkah. Aku berjalan dalam diam. Menahan geram. Akh, awas saja jika ia mempermainkanku.
Gang demi gang kami susuri. Menyeberang jalan. Perjalanan itu cukup melelahkan. Mungkin ada sekitar tiga puluh menit perjalanan. Tiba-tiba saja rasa penasaran mulai menjalari. Aku seperti terhipnotis. Peluh merembes di dahiku yang bersilipat. Hingga langkahnya , langkahku terhenti tepat disebuah rumah mewah berpagar tinggi. Catnya emas beradu perak.
“Ini rumah ayahmu!” tunjuknya.
Akh, aku mulai tak suka dengan permainan ini.
“Omong kosong! Tukasku.
Aku tak bisa percaya begitu saja. Aku tak mau berkarib-karib dengan kemulukan. Aku paling benci dibohongi. Perempuan gila ini ada –ada saja!
“Aku mau pulang” ujarku sambil melangkah pergi.
“Tunggu, Sendo! Perempuan itu meraih pergelanganku. Ia menyerat langkahnya. Aku ikut terpaksa. Ia gedor pintu pagar. Ia buat onar keributan. Penghuni rumah merasa tergangu. Lalu seorang pria buncit betubuh gempal keluar. Ia masih mengenakan sarung. Tak lama disusul oleh seorang perempuan cantik yang masih berdaster di belakangnya seorang anak lelaki sebayaku tengah mengekor . Rupanya mereka benar-benar tergangu oleh ulah perempuan gila ini. Mereka semakin mendekat. Perempuan itu langsung menceracau. Memekik dan memaki habis-habisan. Aih, aku malu tiada terperih!
Lantas entah mengapa ketika aku hendak kabur,pandanganku bertumpuh pada sosok anak itu. Mataku begitu lekat memandangnya. Aku benar-benar tak percaya ; matanya, hidungnya, bibirnya mirip sekali denganku. Aku seperti melihat aku.
“Tak mungkin! Ini pasti hanya mimpi” gumamku dalam hati.
Kau tak akan percaya sebelum kau melihatnya sendiri. Anak muda tanggung itu mirip sekali denganku. Apa kami saudara kembar? Kau pasti akan menuduhku sebagai pembual tingkat tinggi atau malah kau akan bilang ceritaku ini mirip sinetron murahan di televisi. Begitu, kan?
Medan , menjelang petang.
26092010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar