Senin, 29 November 2010

APA KABAR, TUHAN?

APA KABAR, TUHAN?
Oleh : Abdillah Putra Siregar


Melamat kesah dalam putaran waktu
pun bibirku tiada henti menceracau nikmat-Mu
lalu aku lupa menambatkan keningku di tanah
bukankah itu yang Kau bilang dekat sekali dengan-Mu


Tuhan..
sering aku berdiri di rahang pintu rumahMu
berdiri saja, sembari leherku menunduk seolah patah
aku malu masuk
sebab kakiku kotor sekali


Tuhan..
sekali ini , kumohon ijinkan aku bertanya
"apa kabarMu?"
sebagai tanda penghambaanku




(Jum'at, 15102010)


Lelaki Pemalu Yang Menulis Puisi


Ah, tiba-tiba saja
petala langit melukis wajahmu
sabit itu indah sekali jika kau yang merekahnya
serupa keindahan malam yang kata orang romantis


ah, ada-ada saja aku ini!
sudah lama aku lupa pada bulan
kukira hatiku mati
sebelum mataku menyalam matamu


tapi, aku masih ragu
sebab belum tentu jua kau merasakan desiran angin di hatiku yang sepoi-sepoi


aih, aku malu!
sungguh, bila lagi-lagi seulas senyum kau lempar padaku
bila tak sengaja matamu bersalaman dengan mataku


kali ini, biarkan aku meramu satu puisi untukmu
jangan kau bilang aku penggombal atau pendusta




(Untukmu , sudah lima tahun kita tak jumpa)

Vegasus: Kuda Putih Bersayap

Malam mulai merangkak senja. Angin dingin menyelusup celah apa saja. Akh, mataku tak mau berkompromi rupanya. Tubuhku menggeliat. Susah tidur. Lantas, kupicing-picingkan saja mata. Akh, tak tertidur juga. Lalu aku beringsut menuju kamar mandi. Berwudhu. Tilawah. Sholat dua rakaat. Bakda itu, aku bersijengkat membaringkan badan. Perlahan kantuk menyergap. Mata mulai mengatup. Sesekali menguap. Lalu tiba-tiba saja terlelap. Tapi,tunggu! Apa benar aku tertidur, bersebab tiba-tiba saja aku berada dalam lorong yang gelap. Tak ada sinar. Aku meraba melangkah. Tempat ini, terasa begitu asing bagiku. Seketika ketakutan mengguncang. Bagaimana jika ini liang kubur? Bukankah kubur itu gelap? Ya Allah, aku teringat dosa, belum sempat kutebus segalanya. Bukan kematian itu yang kutakutkan tapi persiapan yang tak ada menjadi kekhawatiran. Allah, aku menyebut asmaNya sambil meraba jalan.
Entahlah, entah dari mana cahaya itu. Awalnya hanya setitik lalu membesar, besar dan semakin besar. Teranglah semua. Mataku silau. Sama saja tak bisa melihat. Dalam pandangan samar itu, seekor kuda menghampiri, tinggi, kuat. Warnanya putih. Aku terperangah, tak percaya dengan apa yang kulihat. Allahu akbar! Gumamku. Decak kagum itu kian mengguncang ketika kuda itu meringkit dan mengangkat kaki depannya. Gagah sekali! Dan ini yang membuatku terperangah hebat. Kuda itu bersayap. Ya, binatang itu bersayap. Aku tertegun! Apakah ini fantasiku? Aku seperti berada dalam negeri dongeng. Bukankah kuda bersayap ada dalam cerita dongeng. Aku ingat, vegasus nama kuda ini. Serupa betul dengan kuda negeri dongeng. Kuda itu meringkik lagi. Perlahan ia kibaskan sayapnya. Oh, indah sekali! Kibasanya menyapu udara. Lalu melayang, kuda itu terbang. Tinggi. Aku hanya mendongak wajah. Tempat itu kembali gelap. Aku tergeragap. Ingin menjerit, tapi bibirku kelu. Ini dimana? Apa aku bermimpi atau berkhayal?

(Mimpi yang sampai detik ini tak mampu kusibak hikmahnya. Yang berkelakar adalah sebuah tanya ; benarkah Vegasus itu ada?)

Dari Sahabatku (Semoga Allah Mencurahkan RahmatNya Padamu Sampai Kakimu Menginjak SurgaNya)

Tulisan singkat ini saya posting kembali sebagai ucapan tulus rasa terima kasih saya buat seorang Dani Sukma. Sahabat yang saya temukan disini, di ruang maya ini. Lalu pada suatu waktu kami dipertemukan. Itulah pertama kali aku bertemu sosok yang rendah hati dan mudah tersenyum ini. Jujur saja, diam-diam aku bangga bisa bersalaman dengannya. Sungguh saudaraku, aku tak mampu membalas apapun yang telah kau berikan. Anggaplah aku saudaramu selalu dan selamanya. Uhibbukum fillah, billah, lillah..selamat membaca catatan  hatinya.

INI TENTANG SEORANG ABDI

by Dani Sukma Agus Setiawan
Ini tentang seorang; Abdillah Putra Siregar, sahabat saya yang mewakafkan dirinya untuk memuliakan diri lewat tulisan. Tak ada yang bisa kuceritakan darinya selain jalan hidupnya yang memilih menjadi seorang penulis! Mungkin kau akan berkata, siapa itu Abdillah Putra Siregar, apa hebatnya dia bukankah masih ada Andrea Hirata, Habibburahman El Shirezy, atau Win RG? Mungkin benar dia tidak sehebat para pakar sastra, tetapi dia hebat di mataku; Sebab dia adalah sahabatku... sahabat yang tahu kapan saat harus membiarkanku menangis dan kapan saat mengakhiri tangisanku dengan sebuah senyuman!

Jangan tanya berapa banyak karya yang telah dia tuliskan, sebab bagiku "Kemuliaan Hidup Seorang Penulis Tidak Hanya Dilihat Dari Berapa Banyak Karya Yang Telah Dituliskan, Tetapi Juga Dilihat Seberapa Besar Pengaruh Dari Karya Yang Dituliskannya!" dan aku terpengaruh! Saat kubuka facebook-nya, aku terhipnotis oleh kata-katanya:

"menulis adalah jalan hidupku, seperti air, seperti udara, seperti itu pulalah pentingnya menulis dalam hidupku.

HIDUP ITU DIPILIH BUKAN MEMILIH

HAMPIR SETIAP HARI, AKU MENGHAYAL MENJADI ENTAH SIAPA, LALU DALAM JENAK AKU MENULIS, MENULIS APA SAJA"

Inilah hebatnya Abdi, sahabatku! Sederhana dalam bertutur, namun maknanya sulit untuk diukur! Sungguh, aku ingin menjelma air agar dapat diteguknya, menjelma udara agar dapat dihirupnya, agar aku bisa mendiami suatu ruang tunggu dalam jiwanya; Jiwa yang teduh meramu kata-kata, mengejar dzikir risalah sastra!

Jujur saja, itu baru dari beranda facebook-nya, lalu saat kubaca gemulai kata-kata dalam cerita pendeknya, sepertinya aku menyelami lautan makna tanpa batas, semakin kulayari gelombang kata-katanya semakin besar badai kecamuk kagum yang menghempas dalam dada, hingga aku tenggelam dan karam dalam dikedalaman air mataku sendiri. Katanya-katanya membuatku terharu, aku memang lelaki yang sentimentil, terlalu perasa dan ketika kubaca karyanya, aku tak kuasa membendung air mata di kantung mataku pada akhirnya mengalirlah tangis. Tidak cukup sampai di situ, setelah aku menangis, tiba-tiba aku tertawa... tertawa bahagia, sebab karena karyanya aku menemukan bahagia yang kusebut; Senyum imajinasi!

Terimakasih sahabatku, kini aku dapat tersenyum. Aku tersenyum sebab lewat karyamu aku bisa meranumkan imajinasiku untuk ikut menyelami makna kemuliaan menulis. Aku juga akan menulis, tetapi maaf bila aku punya mimpi; Aku akan melebihimu! Sebab jika aku tidak berhasil, maka dirimu kukatakan gagal. Sebab hakikatnya, seorang guru yang baik adalah yang mampu menjadikan muridnya melebihi dirinya, dan kau adalah salah satu guruku.



Ayah, Puisi ini untukmu

Ayah, tiba-tiba saja aku teringat amarahmu padaku, ya, amarah
bersebab kau sering sekali memarahiku
pada pagi-pagi, saat aku dulu tak pernah sholat subuh
pada siang-siang, saat aku dulu bolos sekolah
pada sore-sore, saat kau temukan aku tak mengaji


Ayah, aku rindu amarah itu
aku rindu kau menghujaniku dengan kata-kata kasarmu
yang baru hari ini kumengerti
sejatinya aku tahu
tak mudah menjadi seorang ayah
itukan yang ingin kau sampaikan padaku dulu?


Ayah, aku ingat, ingat sekali!
saat sore menjelang, kau menyuruhku mandi, aku acuh
kau membentakku, aku lari
bersembunyi pada sebuah tempat yang teramat sunyi
"aku membencimu"kataku saat itu
kau malah tak mencariku
kau biarkan aku tertidur tak beralas tikar
kau kurung aku di kandang ayam
kau bilang padaku
"jangan jadi pecundang!"
aku benci sekali padamu saat itu, benci sekali!


lalu, entah mengapa, kini, ketika kau tak pernah memarahiku lagi
ketika aku tak lagi mendengar suara beratmu
ketika aku tak lagi merasakan sapuan lidi yang kau libaskan ke kakiku
kini aku rindu itu semua
aku ingin bermanja-manja di punggung tubuhmu
aku inggin memanjat kakimu
aku ingin bercerita padamu
tentang seorang gadis yang kutemui tempo hari


Ayah, aku mengerti kini
arti amarahmu
libasan sapu lidimu
aku rindu padamu, kini...

Minggu, 21 November 2010

DUKA CINTA INTAN ( Dimuat di MEDAN BISNIS)

DUKA CINTA INTAN ( Dimuat di MEDAN BISNIS)

PENULIS : Abdillah Putra Siregar


Intan menatap nanar pada ibu mertuanya. Ia tak bergeming. Diam terpaku. Bukan sekali dua kali sindiran yang menyayat hati itu melabuh ditelinganya.
“Dasar menantu sial, tak tahu diri” begitulah setiap hari mertuanya itu mencaci.
Diusia kelima pernikahan itu. Ia pikir semuanya akan berubah. Mertuanya akan bersikap baik dan mengangapnya bagian dari keluarga. Tapi nyatanya, perlakuan kasar juga kerap ia terima dari hari kehari.
“ Mas, aku ingin kita pindah dari rumah ini !” pintanya pada suaminya, Dika Alghifari.
“ Mengapa, Cinta? Apa kau tak suka berada dekat dengan keluargaku?” Ujar Andika lembut.
Intan diam. Ia tak mau mencari-cari alasan atau memberitahukan keadaan yang sebenarnya, yang kerap kali ia terima selama berada dirumah ini. Ia juga tak ingin terkesan mengadu domba hubungan baik suami dan ibu mertuanya itu. Bagaimanapun Dika selalu mengangap ibunya adalah ibu yang terbaik. Mana ada seorang anak yang tak mengangap baik ibu sendiri kecuali anak durhaka..
“ Cinta, jangan termenung bergitu, bagaimana kalau malam ini kita jalan berdua!” bujuk Dika mesra kepada istrinya.
Intan tersenyum.
“ Kayla, gimana mas?” tanyanya.
“ Kita minta tolong ibu menjaganya sebentar, beliau pasti tidak akan keberatan”
Intan beringsut. Ia mengembus nafasnya. Secercah takut menghampiri. Bagaimana jika ibu marah dan menyalahkannya , hatinya berbisik.

****


“ Intan..!”
Suara lengkingan Suminah , ibu mertuanya menggema dirumah besar itu. Memantul tajam ketelinga Intan. Seketika Intan menolehkan kepalanya menghadap arah datangnya suara. Wanita paru baya berkebaya itu sudah berdiri garang dibelakangnya. Wajahnya dingin. Dadanya turun naik. Nafasnya saling memburu dan berkejaran dengan detak jantung wanita baya berusia 50 tahun itu. Bibirnya menahan geram.
“ Ada apa, Bu? Mengapa harus berteriak begitu?”
“ Menantu kurang ajar, enak- enakan kowe pergi dengan anakku tadi malam dan menitipkan anakmu padaku” repet Suminah panjang.
Intan tertunduk. Ia tak berani menatap wajah yang telah merah padam itu. Suminah mendekatinya.
“ Kau pikir aku ini tempat penampungan anak! “ amuk suminah lagi.
Intan bergeser ke belakang. Pelan. Suminah semakin mendekati. Mulutnya tak henti melontari Intan dengan kata- kata kasar. Ia bahkan memutari tubuh Intan. Menghentak- hentak kuat jidat menantunya dengan telunjuk kanan wanita bertubuh besar itu . Intan mengangkat wajahnya sebentar . Melirik mata mertuanya. Ia bergidik. Matanya bersirobok. Ia ketakutan. Mata itu begitu buas, seolah ingin menyantapnya bulat- bulat.
“ Sekarang kau copot jilbamu itu !“ ujar Suminah memaksa.
“ Untuk apa Bu?” Intan menjawab terbata.
“ Buka !” paksa wanita tua itu lagi.
Intan tergerap. Ia memagang kuat kepalanya.
“Jangan, Bu!” ucapnya lirih.
Tapi tangan wanita itu telah melampaui segalanya. Ia mencopot paksa jilbab Intan .Intan sesenggukan. Rambut panjang hitam legamnya terburai berserakan. Suminah menatap puas. Ia memandang Intan yang tertunduk wajah denagn senyum tipis sinis. Air mata Intan susul menyusul. Suminah mengangkat dagu menantunya itu. Matanya menangkap selingkar kilau menghias indah di leher Intan. Senyumnya mengembang.
“Berikan kalung itu padaku !” ucapnya pelan didekat telinga Intan.
Intan menggeleng .
“ Jangan Bu, ini hadiah pernikahan dari mas Dika “ ucapnya lusuh.
“Serahkan atau akan kuatur rencana untuk menghancurkan kebahagian rumah tanggamu! “ Suminah berucap ancam.
Intan tergeragap lagi. Spontan wajahnya terangkat menantang. Matanya beradu tajam dengan mata Suminah.
“ Astaghfirullah,Ibu, atas dasar apa Ibu melakukan itu, apa ibu tidak kasihan pada anak ibu sendiri ?’tanya Intan menantang.
Suminah tersenyum tipis.
“ Siapa bilang suamimu anak kandungku?” ujaranya menyeringai tajam.
Intan tercenung. Benarkah ucapan mertuanya itu, gumamnya. Airmatanya sudah mengumpal hebat di kedua mata indah itu. Bahkan ia diam saja saat ibu mertuanya itu menarik paksa kalung itu dari lehernya.

****


Diluar sana senja meniti perih. Hujan reda tak reda. Intan duduk ditepi ranjang kamarnya yang serba putih. Ia masih terjebak pada ucapan mertuanya siang tadi. Air matanya susul menyusul lagi. Pelan pintu terketuk. Ia mengenal pasti ketukan itu. Ketukan pintu khas suaminya. Ia berdiri spontan. Memandang sejenak didepan cermin. Ia benahi penampilannya. Ia tak boleh terlihat sedih. Ia hapus bekas air mata di pipi. Kemudian melesat membuka pintu.
“ Wajahmu lelah sekali,Mas?tanyanya hangat pada suamimya itu
“ Aku tak apa,cinta “ ucapnya sambil mengecup dalam kening istrinya.
Air mata Intan kembali jatuh. Beribu dilema ada dibenaknya. Yang paling berat adalah haruskah ia mengatakan apa yang telah dikatakan oleh mertuanya tadi pada suaminya ini?
“ Mengapa menangis cinta,?” tanya Dika penasaran.
“ aku tak apa sayang, aku hanya sedikit kelelahan menemani sikecil bermain” jawabnya.
“ tapi matamu sem…”
Belum sempat dika meneruskan kata- katanya itu. Intan sudah menyerahkan handuk dan pakaian ganti suaminya itu.
“ Mandilah, tubuhmu bau !” ujarnya manja.

Gamang. Intan kembali duduk di tepi ranjang tidurnya. Memandang lekat pada cermin besar. Pikirannya menerawang. Ia bersyukur memiliki suami yang bertanggung jawab, lembut dan penuh pengertian seperti Dika. Hanya lelaki ini yang membuatnya hanyut. Ia ingat awal- awal rencana pernikahan yang tak pernah disangkanya itu.

“ Menikahlah denganya nduk, sebab tak ada wanita sebaikmu yang pantas mendampinginya “ ujar pak Nugroho, yang terbaring lemah dirumah sakit itu.
“ Tapi pak , saya bukan orang yang tepat, saya hanya seorang perawat” ucapnya pelan.
“ Bapak yakin , dika tidak akan mempermasalahkan statusmu “ ucapnya lagi.
Intan dilema . haruskah ia mengabulkan permintaan bapak tua dihadapannya ini. Apakah ia layak menikah dengan dokter itu.
“ Dika itu anak semata wayangku, aku ingin perempaun yang tulus yang menjaganya “ ujar Nugroho lagi.
Tiba- tiba pintu terkuak. Seorang pemuda tampan berjas putih masuk. Intan memandangnya sekilas. Hatinya berdesir.
“ Bapak sudah makan sus? “ tanya Dika kepada perawat ayahnya itu.
Intan menganguk.
“ Dika , maukah kau mengabulkan satu permintaan ayah?” tanya ayahnya lemah.
Dika menganguk.
“Menikahlah dengan Intan ! “
Dika terkesiap. Ia memandang gadis berjilbab dihadapanya itu.
“ Kamu maukan ?” tanya ayahnya memastikan.
Dika sedikit ragu. Ia memandang bergantian wajah keduanya. Intan tertunduk dalam.
“ baik ayah, Dika akan menikah dengan Intan “ ucapnya pasti denagn kesadaran yang dalam. Sebab sebenarnya diam- diam ia mengagumi gadis manis berkulit putih itu. Intan terkejut. Pak Nugroho mengulum senyum dalam. Dari balik pintu yang sedikit terkuak Suminah memandang tajam.

“ Cinta, sayang, ada apa ?” sapa Dika membuyarkan lamunan istrinya.
Intan tersenyum singkat . ia mencium kening suminya dalam. Tiba- tiba dari luar, pintu kembali terketuk. Samar- samar terdengar suara.
“ Den Dika, dipanggil nyonya ke ruang makan !” ujar bik Minah.

****

“Dik, ibu memasakan makanan kesukaanmu, sop ayam special “ ucap Suminah di meja makan itu.
“ Ibu, tak usah terlalu repot- repot begini” ucapnya lembut sambil mencium pipi kiri ibunya itu.
“ Kau harus menghabiskannya , Ibu membuatnya dengan bumbu cinta khusus untukmu” ucap Suminah.
Dika mengambil piring dan menyendokkan sendiri nasi kepiringnya. Perutnya memang sudah sangat lapar. Suminah memberikan semangkuk sop ayam itu. Baunya harum sekali. Asap mengepul. Tapi dika tidak sabar. Ia mengambil senduk dan menyerutnya pelan. Ah, nikmat sekali, hatinya bergumam. Suminah tersenyum sinis. Dika terus saja melahap sesendok demi sesendok. Beberapa menit kemudian, tiba- tiba tenggorokannya tercekat, matanya memerah, Urat- urat lehernya bermunculan. Ia tersedak . ia raih segelas air. Dari dalam mulutnya mulai mengalir buih putih. Ia memandang ibunya itu. Wanita itu tertawa membahana. Dika semakin parah. Tubuhnya sudah mengejang .Buih- buih dimulutnya semakin menggumpal. Ia tak bisa lagi berucap. Kepalanya terkulai seolah patah diatas meja. Suminah terus tertawa. Tak sadar. Intan telah melihat semuanya.

DISINI HUJAN DERAS SEKALI ( MENEMBUS BATAS HIKMAH)

DISINI HUJAN DERAS SEKALI ( MENEMBUS BATAS HIKMAH)

Abdillah Putra

Mendung menggantung di langit. Pekat sekali. Matahari disembunyikan awan hitam yang berarak. Padahal baru sekitar lima belas menit lalu ia bersinar garang.
Petir mulai saling silang. Angin dingin menggoda ranting. Sesekali terdengar derit nya. Tak lama hujan mengguyur, deras, semakin deras dan akhirnya deras sekali. Jarum-jarum air  seolah tumpah ruah dari langit. Saling tindih, timpa menimpa  memukul habis tanah berdebu kota Medan.
Dalam kejab koridor pertokoan sudah berubah jadi pelabuhan pejalan kaki dan pengendara motor. Termasuk aku. Aku menegadah sejenak. Kulihat langit mulai panik. Awan-awan kegelapan mencengkram bumi Medan dan belahan bumi Allah lainnya. Air semakin tumpah ruah bersamaan dengan deru angin yang kencang berhembus. Aku memeluk tubuh. Dingin sekali! Sebab sebagian pakaianku basah terciprat serpihan air hujan.
Semua diam. Menatap sejurus pada hujan. Langkah-langkah tergesa orang –orang yang baru turun dari angkot disambut gegap gempita oleh anak-anak pengojek payung.
“Payung,bu!”                                                                        
 “Payung pak!”
Tawaran ini langsung disambut gegap gempita  para pengguna jasa. Semua seolah takut kena hujan. Mereka bergegas meneduh di koridor pertokoan.
Para pengojek payung itu rata-rata anak-anak putus sekolah. Mereka bertarung dengan nasib di bawah hujan yang mengguyur. Meski kuyup, meraka tetap mengais rezeki. Menurutku, meraka siap mencuri start dan peluang demi mempertahankan hidup. Lantas, aku melempar pandanganku pada perempatan jalan lampu merah. Tanpa sengaja retinaku jatuh pada pemandangan ganjil yang tak biasa.
Seorang bocah dengan baju yang begitu kuyup diam memayungi seorang wanita paruh baya. Anehnya, disaat para teman-temanya sibuk menawarkan jasa ia malah diam tak peduli. Bahkan ketika ada seorang ibu yang memerlukan payung dan memanggilnya. Ia tak bergeming. Hanya menggeleng saja. Heran! Bocah itu begitu setia memayungi wanita tua disampingnya. Mungkin wanita itu ibunya, begitulah pikiranku.

Tak lama,setengah jam berlalu. Hujan berhenti. Mataku tak lepas dari anak itu. Aku melangkah pelan. Menyebrangi jalan. Rinai gerimis masih deras. Kubiarkan bulirannya membasah kepalaku. Tak ayal , aku penasaran. Kudekati anak dan wanita yang duduk di persimpangan jalan itu.
“ini ibumu?”tanyaku.
Ia menggeleng. Sesaat mata kami bersirobok. Lalu ia  berlari meninggalkanku dan wanita tua itu begitu saja Kualihkan pandanganku kearah wanita tua disampingnya tadi. Astaghfirullah! Saat itu aku tahu, wanita paruh baya itu ternyata tak mempunyai kedua kaki. Lalu rasa iba itu mengalir begitu saja. Mataku –matanya saling bersitatap. Sungguh! Rasa haru meruap begitu saja dalam diriku.
****
Masih di persimpangan jalan. Aku tercenung sendirian. Ya Allah, betapa aku merasakan sesuatu yang luar biasa hari ini, aku seperti menemukan segepok berlian di jalanan. Meski anak itu tak berkata apa-apa. Tapi dari matanya aku bisa membaca. Betapa ketulusan itu masih ada. Betapa semangat pengorbanan itu belum habis tergerus keterbatasan. Aku ingin menangis. Tapi kupikir ini bukan kisah untuk ditangisi. Aku semakin bangga, negeri ini masih bias diselamatkan jika saja semua orang mau berbagi dengan apa saja yang mereka miliki.  Semoga !
Medan, saat hujan mengguyur.

RINDU UTARI (a cerpen by Abdillah ) dimuat di Medan Bisnis, 4 July 2010.

RINDU UTARI

Angin pantai berhembus kencang. Kencang dan kencang sekali. Bertepi luruh pada warna jingga yang menyemburat di cakrawala. Lembayung memesona. Dalam dekapan rindunya Utari memandang lamat laut lepas. Berjalan pelan menyusuri pantai. Ia memeluk dirinya sendiri. Rambut hitam legamnya melayang lembut. Indah. Kakinya meninggalkan jejak tapak yang segera tersapu lidah ombak yang terhempas.

Utari menyisir rindu di tepi laut. Sendiri. Di pantai itu berhari- hari ia menanti. Dari pagi dan senja baru kembali. Orang-orang kampung nelayan situ sudah mengenal betul tabiat gadis yang terkenal kecantikannya ini.

Sejak dua bulan lalu, ayahnya tak kembali usai melaut. Sejak itulah Utari senang berlama- lama mencari entah apa. Melihat entah apa di pantai itu. Para nelayan kampung bukan tak berusaha mencari. Berhari, berminggu mencari ayahnya yang entah kemana. Nihil. Jika tenggelam, jasadnya pun tidak ditemukan. Ayahnya seolah raut ditelan laut atau di hempas menggelinding ke tempat entah dimana.

Sudah berbusa mulut orang kampung memperingati Utari, agar tak mencari ayahnya lagi. Ikhlaskan sajalah, begitu kata mereka. Utari seolah tak peduli. Ia suka menyendiri sekarang. Orang kampung nelayan itu hanya tak tahu saja. Utari akan menemukan ayahnya kembali. Ia juga tak peduli dengan anak- anak kecil yang bermain kejar- kejaran dengan ombak, menari meliuk bersama angin pantai, menggenggam pasir putih lalu membangun rumah-rumahan, benteng- bentengan dan istana-istanaan.

“Utari, pulang!” teriak neneknya.
Ia hanya menoleh sesaat. Lalu melempar kembali pandangannya ke laut yang hijau.
****


Pagi ini dan seperti pagi-pagi lainnya. Belum lagi Fajar merangkak. Utari sudah duduk diatas perahu yang karam. Memeluk kaki. Ia bahkan membiarkan rambut panjang hitam legamnya terburai menari bersama angin subuh.

Beberapa jenak, perlahan cahaya keemasan menyemburat pagi. Menyapu laut, menyisir pantai. Selain ingin mencari entah apa, inilah panorama pagi yang menggoda Utari untuk datang setiap pagi. Cahaya keemasan itu menerangi sekitarnya. Karang yang teronggok di tepi pantai seolah menemukan napasnya kembali. Pasir- pasir putih basah berkilau serupa tumpukan berlian yang berserakan tumpah dari langit. Berbinar, bersinar, indah.

Perlahan pula lidah ombak menyentuh dasar ujung perahu karam,.seperti menyapa Utari dan mengucapkan selamat pagi. Namun, Utari, seperti hari yang lalu, tetap sama. Hanya memandang laut lepas.

Para nelayan kampung tak ada lagi yang mau menegur Utari. Sebab ditegur atau tidak sama saja. Kecuali, Banu, pemuda tanggung yang diam- diam menitip rindunya untuk Utari sejak kecil dulu, hanya dalam hati sebab Banu tak pernah menyampaikan isi hatinya itu kepada Utari.

“Lihatlah, air laut yang berwarna hijau itu!” sapa Banu. Utari mencari- cari arah suara.
“Aku di belakangmu” ujarnya lagi lalu melompat keatas perahu dan duduk disamping Utari.
“Indah, bukan?” Utari bersuara.
Banu tersenyum.
“Aku akan melaut pagi ini, kau mau ikut denganku?” Tawar Banu.
“Benarkah?” Tanya Utari mencari kepastian. Banu menganguk
“Pagi ini jam delapan, datanglah, aku akan menunggumu, kita akan mencari ayahmu”ucap lelaki jangkung itu lalu melompat dari perahu karam itu.
Utari tersontak girang. Ia tergeragap memandang lamat wajah Banu. Tak perlu menanyakan kepastian lagi, sebab binar mata Banu yang menjawab semuanya. Utari pun berdiri, tak lagi memeluk kaki , tak juga tubuhnya. Ia berdiri garang di ujung perahu karam itu. Angin pantai mendesau. Banu tersenyum. Rambut gondrongnya menari seindah senyuman Utari.
“Ayah, tunggulah!”ujarnya tersenyum memandang laut lepas.
****

Di pantai, terdengar suara deru mesin perahu. Utari berlari begitu cepat. Di bibir pantai itu Banu telah menantinya.
“Sudah izin dengan nenekmu?”
Utari menggeleng.
“Kau harus bilang, nanti dia mengira aku melarikanmu” ujar Banu lagi.
“Sudahlah, ayo kita berangkat, sebelum hari beranjak siang, sebelum matahari terlampau panas” jawabnya.
Utari tampak begitu tergesa.
“Utari, mau kemana?”
Seorang nenek muncul tiba-tiba, jarak mereka tak begitu jauh dari perahu yang mulai mengapung itu. Lidah- lidah ombak menghalang langkah wanita tua itu, pekikan suaranya dikalahkan oleh deburan ombak yang menghempas karang. Utari tersenyum tipis.Wajahnya tempias menantang angin kencang yang bergemuruh. Jejak- jejak kakinya masih tertinggal satu- satu di pantai.
“Aku ingin mencari ayah” jeritnya pada laut.
Perahu pun semakin melaju membelah air
****

Senja mulai merambat. Angin dingin terdengar menderu-deru. Desauanya menyatu padu bersama debur air yang menghempas perahu Banu. Mencipta harmoni yang mendebarkan
Semburat jingga mulai melukis di perut laut. Indah. Luar biasa. Camar kejar mengejar di langit. Perahu- perahu nelayan satu persatu mulai menepi pulang. Berjajar kembali di tepi pantai sepanjang kampung nelayan. Tapi, sesore ini, perahu Banu tak ada. Utari tak ada.
Neneknya sibuk bertandang dari satu gubuk ke gubuk lain. Ia menanyaka cucunya yang dibawa bersama perahu Banu. Nihil , entah mengapa jawaban nelayan- nelayan kampung itu semua sama. Tak melihat Utari juga perahu Banu. Nenek tercenung sendiri diatas perahu karam tempat dimana Utari biasa duduk menghabiskan rindunya pada ayah.
“Kemana kamu Tari, mengapa sesore ini belum pulang juga?” ucapnya lirih
****

Sepenuhnya Utari mulai menyadari, pencarian ini semakin melelahkan tanpa hasil. Mereka bahkan telah melampaui batas perairan menambang ikan para nelayan. Mereka menuju entah. Lelangit mulai mengelam. Angin dingin mulai menyusup ke tulang. Mereka terombang- ambing dalam pekat malam. Terdampar di tengah laut yang tak mereka kenal. Mesin telah padam. Langit mendung. Bintang tak ada.
“Banu, maafkan aku menyusahkanmu” ucapnya pelan.
“Tak apa, Utari, aku juga minta maaf , terpaksa kita harus bermalam seperti ini” ucap Banu sopan.
Utari tersenyum lama. Ia memandang wajah lelaki dihadapannya itu. Lalu menengadah memandang purnama yang tersaput awan kelam.
“aku yakin, kita akan bertemu dengan ayah” ucapnya lirih.
Banu diam.
****

Nenek masih tampak gelisah. Ia benar-benar hampir putus asa. Sepagi ini Utari belum juga pulang. Diam-diam ia berprasangka, bagaimana jika kapal mereka karam di laut di hempas gelombang ombak. Cucunya memang bisa berenang, namun apakah mampu bertahan di tengah laut lepas dalam waktu yang lama? Para nelayan kampung mulai gelisah. Pun orangtua Banu. Mereka membayangkan sesuatu yang buruk tengah menimpa.
“Bagaimana ini? Kita harus mencari mereka” nenek berujar cemas, suaranya parau.
“Tenanglah nek, aku yakin mereka tak apa-apa?”kata ayah banu.
“tapi..bagaimana jika kapal mereka karam…lalu terseret gelombang laut dan terdampar entah di tempat mana? Mamak banu menimpali.
“kita tunggu sampai tengah hari, kalau mereka tak pulang juga, kita adakan pencarian”ayah Banu mencoba menenangkan.
Laut mulai menyurut. Ombak berdebur dan menghempas ganas ke dinding-dinding karang. Di pantai orang-orang berharap cemas.
****
Tengah hari berlalu. Perahu, Banu dan Utari masih tak tampak. Orang –orang kampung yang sedari pagi sibuk menyusuri bibir pantai mondar-mandir memandang laut. Para nelayan sigap mencari ke seluruh penjuru tempat biasa mereka mencari ikan. Seperti biasa, senja mereka kembali, merapatkan perahu-perahu mereka. Wajah letih menggurita. Banu dan uteri tak jua ditemukan. Hingga senja mulai beranjak pergi.
Ini malam kedua Banu dan Utari hilang. Penduduk nelayan kampung mulai menyerah pasrah. Nenek tidak. Ia masih menyimpan harapan besar. Ia sangat yakin cucunya baik-baik saja dan akan segera pulang.
Sementara itu, dibelahan laut lainnya. Banu tengah terengah-engah mendayung perahunya. Pun utari, wajah keduanya begitu lelah. Meraka bertempur habis-habisan dengan gelombang dan hujan yang menguyur. Sesekali kilat menyambar, petir saling silang. Suara bergemuruh hebat dilangit yang kelam. Angin mulai ribut. Langit malam menyeringai tajam. Tapi kedua manusia itu tak peduli. Mereka terus mendayu dan mendayu. Laut bagai permadani yang dibentangkan. Bergelombang, bergemuruh, menakutkan. Perahu mereka doyong kiri dan kanan, perahu kecil itu tampak begitu tak seimbang. Kini mereka pasrah, tubuh mereka telah kuyup semuanya. Perahu itu semakin oleng. Kini mereka berharap gelombang besar itu menggelindingkan tubuh mereka ke kampung halamannya. Banu mengenggam erat jemari utari. Seolah tak rela berpisah. Namun entah mengapa Utari melepaskan gengaman itu. Ia tersenyum simpul, wajahnya menengadah kelangit beradu dengan guyuran lebat hujan. Di langit sana, ia seperti melihat ayahnya.

Medan, siang hari.

Aku Bercerita Padamu Tentang Ibuku

Aku Bercerita Padamu Tentang Ibuku
(Dimuat pada harian Medan Bisnis, 03102010)
Oleh : Abdillah Putra Siregar

Jika kau tanya siapa orang yang paling kejam dalam hidupku. Maka, aku akan menjawab : ibuku. Kau pasti heran! Mengapa bisa aku berkata setega itu?
“Apa kau tidak takut dicap anak durhaka? Atau apa kau tidak tahu kasih ibu sepanjang masa ?” akh, itukan yang ingin kau bilang.
Tapi aku sudah punya jawaban pamungkasnya. Aku akan bilang pada kalian tidak semua ibu seperti itu, buktinya ibuku. Dulu, ketika aku baru berumur lima bulan, perempuan itu hampir saja membunuhku. Bayangkan, ia hendak membakarku hidup-hidup. Ia ingin mengajakku mati bersamanya. Bukan itu saja, pipi, lengan  dan paha kecilku membiru lebam akibat cubitannya. Kontan saja, aku kecil menangis meratap-ratap tengah malam.
Tentang ia yang ingin membakarku hidup-hidup itu. Untung saja tertangkap basah oleh tetanggaku, Mbok Karsih. Entah bagaimana ceritanya  ketika perempuan itu tengah memandikanku dengan seliter bensin, si Mbok datang dan memergoki aksi nekad perempuan itu. Si Mbok memekik, warga kampung rusuh. Berdatangan ke rumahku dan menggelandang perempuan itu ke kantor polisi setelah sebelumnya hampir babak belur dihakimi massa. Warga kampung tak senang senang atas perbuatan biadab ini. Lantas perempuan itu dipidana atas tuduhan penganiayaan bayi. Ia sempat membela diri. Dihadapan para wartawan ini berkelakar
“Saya hanya ingin kebahagian yang sejati untuk anak saya, di surga sana !”
Ada –ada saja ibuku itu. lalu aku diasuh oleh si Mbok, ialah selama ini wanita yang kukira telah melahirkanku sebelum ia menceritakan semuanya tentang aku dan ibuku. Ia lebih dari seorang ibu bagiku. Diusiaku yang tengah beranjak angka empat belas, tak pernah sekalipun si Mbok memarahiku.
Aku dan si Mbok tinggal di perkampungan kumuh pinggiran kota ini. Akh, tak usah kau tanya dan tak perlu pula kuceritakan tempat ini, mungkin kata ‘kumuh’ sudah cukup menjejeli imajimu betapa busuknya tempat aku dibesarkan ini.
Jika kau tanya , apakah aku menyimpan rindu pada ibuku. Maka, aku yakin kau sudah tahu jawabannya. Betapa aku sangat tidak merindukan perempuan itu! Bahkan bagiku ia sudah lama mati dibalik terali besi. Mampus!
***
Menurut penuturan si Mbok, ibuku adalah seorang pelacur kelas kakap. Ia terkenal cantik di perkampungan ini. Bapaknya meninggal akibat TBC lalu disusul 3 bulan kemudian oleh ibunya. Usia ibuku baru lima tahun saat itu. Lantas, ia tinggal bersama perempuan bernama Miranda. Rumah perempuan yang selalu berpakain mini dan berdandan menor ini sampai sekarang masih disamping rumah si Mbok. Disanalah ibuku dibesarkan. Entah apa yang dicekoki oleh si Miranda ini sampai akhirnya ibuku menjadi pengikut setia jalan hidupnya. Jika ditanya mengapa jadi pelacur. Maka alasan klise adalah jawabannya : susah mencari kerja di negeri ini.
Dulu, ibuku biasa mangkal di lapak tuak Bang Luhut, yang terletak di ujung gang kampung kumuh ini. Bahkan ia akan betah duduk seharian disana, meladeni para pria paruh baya berperut buncit. Orang-orang kampung kumuh tak ada yang ambil peduli. Bagi mereka ini biasa saja. Bahkan budaya kumpul kebo sudah dianggap biasa dan mendarah daging turun temurun. Menikah bagi warga kampung kumuh tak harus pakai wali , saksi dan tuan kadi. Jadi jika suka sama-suka, mantablah itu!
Apalagi soal makanan, jangan kau larang jika kau melihat seorang ibu mengutip bangkai ayam dibalik onggokan sampah. Jangan pula kau heran jika ia akan memasak dan memakan bangkai itu bersama keluarganya. Jangan pula kau katakan haram, pasti caci maki yang akan segera menyepuh telingamu. Kami tak butuh ocehan.
 Kembali pada kisah ibuku. Ia memilih tinggal serumah dengan Bang Luhut.
Padahal ia tahu si Luhut itu tukang kawin, anaknya berserakan dimana-mana. Sampai akhirnya ibumu hamil. Aih, ia malah ditendang. Bang Luhut bosan. Dan mungkin akulah pelampiasannya. Akh, dasar ibu gila!
***
“Aku ibumu, Nak” selak seorang perempuan kurus bermata cekung. Kulitnya putih. Rambutnya berkeringat. Lepek.
“Ibu!” gumamku. Pandanganku kulempar pada dua bola mata si Mbok. Meminta penjelasan. Nihil, mata si Mbok hanya berkaca-kaca,
Ia diam. Aku diam. Perempuan kurus itu menggelar air mata.
“Peluk ibu, Nak!” pintanya parau.
Aku diam. Tubuhku kaku. Jika benar kau ibuku. Sudah lama aku menganggapmu mati. Tak cukupkah luka yang sudah kau toreh di hatiku? Tak ingatkah kau dulu pernah memandikanku dengan seliter bensin?
“Ibuku, sudah mati!” aku berkelakar kejam.
“Sendo, kau tak boleh berkata seperti itu, dia ini ibumu” nasihat si Mbok.
Aku melenggos. Napasku memburu. Dadaku turun-naik. Kusambar kaos kumal yang tergeletak lusuh di atas meja satu-satunya milik kami.
***
“Apa dia tahu kejadian dulu, Mbok?” tanya perempuan itu dengan air mata kejar mengejar.
Si Mbok menganguk saja.
“Dari mana ia tahu, Mbok? Tanyanya lagi.
“Aku yang ceritakan”
“Kenapa si Mbok ceritakan?”
“Anak itu harus tahu masa lalunya, biar dia tidak melakukan hal yang sama seperti yang pernah menimpa dirinya dan tindakan bodoh yang pernah kau lakukan!”
“Mbok lihatkan! Sekarang ia malah membenciku” selak perempuan itu.
“Kau memang pantas untuk dibenci, ini semua salahmu!” ujar si Mbok kejam.
Ia diam.
***
Aku duduk tepekur sendiri di balik tumpukan sampah yang menggunung. Bau busuk yang menguar itu tak kuhirukan. Bahkan penciumanku sudah terbiasa dengan semua ini. Entah mengapa bayang perempuan itu masih saja melintas di retinaku. Aku  Bukan ingin  meratapi nasib. Bukan. Hanya saja aku tak pernah berharap bertemu dengan perempuan yang mengaku ibuku itu. melihatnya tadi, aku seperti melihat wajahku di cermin. Wajahku-wajahnya jadi satu. Ia benar ibuku, tapi tetap saja, kebencian yang telah mendarah daging itu begitu kuat mematri hatiku. Tak mudah bagiku untuk memaafkannya. Kini ia datang. Memintaku mengakuinya sebagai ibuku. Brengsek! Sekarang aku ingin bertanya padamu ; apakah ada ibu yang memandikan anaknya dengan seliter bensin? Jika ada , yakinlah! Dia bukan seorang ibu melainkan perempuan gila yang mengaku ibu.
“Sendo, pulanglah! Perempuan itu sudah pergi”
“Mbok, tidak bohong kan?”
Si Mbok menggeleng,
“Apa kau tak akan memaafkannya?”
“Tidak akan, Mbok?” kelakarku emosi.
***
Pagi masih begitu belia ketika perempuan itu menjegatku di lorong ujung kampung kumuh. Aku tak peduli. Terus saja aku berjalan.tapi ia mengejar langkahku. Menghadangku dari depan. Aku bersirobok denganya. Mata kami saling beradu. Sekilas saja, karena aku langsung melempar jauh pandanganku kesamping.
“Nak, ibu ingin minta maaf !” ujarnya.
Aku tak peduli. Semakin kukayuh cepat langkahku. Perempuan itu berjalan tergesa.
“Sendo, tunggu!” panggilnya.
Mau apa lagi perempuan brengsek ini.
“Ibu akan mengantarmu menemui ayahmu!” bujuknya. Langkahku terhenti.
Ayah! Si Luhut itu. bukankah ia telah lama mati? Lagipula untuk apa aku bahkan tak pernah terpikir tentang sosok itu. Hatiku berujar sendiri.
“Ikut aku!”
Lantas aku mengikuti saja kemauanya. Kulangkahkan kakiku kemana ia melangkah. Aku berjalan dalam diam. Menahan geram. Akh, awas saja jika ia mempermainkanku.
Gang demi gang kami susuri. Menyeberang jalan. Perjalanan itu cukup melelahkan. Mungkin ada sekitar tiga puluh menit perjalanan. Tiba-tiba saja rasa penasaran mulai menjalari. Aku seperti terhipnotis.  Peluh merembes di dahiku yang bersilipat. Hingga langkahnya , langkahku terhenti tepat disebuah rumah mewah berpagar tinggi. Catnya emas beradu perak.
“Ini rumah ayahmu!” tunjuknya.
Akh, aku mulai tak suka dengan permainan ini.
“Omong kosong! Tukasku.
Aku tak bisa percaya begitu saja. Aku tak mau berkarib-karib dengan kemulukan. Aku paling benci dibohongi. Perempuan gila ini ada –ada saja!
“Aku mau pulang” ujarku sambil melangkah pergi.
“Tunggu, Sendo! Perempuan itu meraih pergelanganku. Ia menyerat langkahnya. Aku ikut terpaksa. Ia gedor pintu pagar. Ia buat onar keributan. Penghuni rumah merasa tergangu. Lalu seorang pria buncit betubuh gempal keluar. Ia masih mengenakan sarung. Tak lama disusul oleh seorang perempuan cantik yang masih berdaster di belakangnya  seorang anak lelaki sebayaku tengah mengekor . Rupanya mereka benar-benar tergangu oleh ulah perempuan gila ini. Mereka semakin mendekat. Perempuan itu langsung menceracau. Memekik dan memaki habis-habisan. Aih, aku malu tiada terperih!
Lantas entah mengapa ketika aku hendak kabur,pandanganku bertumpuh pada sosok anak itu. Mataku begitu lekat memandangnya. Aku benar-benar tak percaya ; matanya, hidungnya, bibirnya  mirip sekali denganku. Aku seperti melihat aku.
“Tak mungkin! Ini pasti hanya mimpi” gumamku dalam hati.
Kau tak akan percaya sebelum kau melihatnya sendiri. Anak muda tanggung itu mirip sekali denganku. Apa kami saudara kembar? Kau pasti akan menuduhku sebagai pembual tingkat tinggi atau malah kau akan bilang ceritaku ini mirip sinetron murahan di televisi. Begitu, kan?



Medan , menjelang petang.
26092010