Senin, 29 November 2010

Ayah, Puisi ini untukmu

Ayah, tiba-tiba saja aku teringat amarahmu padaku, ya, amarah
bersebab kau sering sekali memarahiku
pada pagi-pagi, saat aku dulu tak pernah sholat subuh
pada siang-siang, saat aku dulu bolos sekolah
pada sore-sore, saat kau temukan aku tak mengaji


Ayah, aku rindu amarah itu
aku rindu kau menghujaniku dengan kata-kata kasarmu
yang baru hari ini kumengerti
sejatinya aku tahu
tak mudah menjadi seorang ayah
itukan yang ingin kau sampaikan padaku dulu?


Ayah, aku ingat, ingat sekali!
saat sore menjelang, kau menyuruhku mandi, aku acuh
kau membentakku, aku lari
bersembunyi pada sebuah tempat yang teramat sunyi
"aku membencimu"kataku saat itu
kau malah tak mencariku
kau biarkan aku tertidur tak beralas tikar
kau kurung aku di kandang ayam
kau bilang padaku
"jangan jadi pecundang!"
aku benci sekali padamu saat itu, benci sekali!


lalu, entah mengapa, kini, ketika kau tak pernah memarahiku lagi
ketika aku tak lagi mendengar suara beratmu
ketika aku tak lagi merasakan sapuan lidi yang kau libaskan ke kakiku
kini aku rindu itu semua
aku ingin bermanja-manja di punggung tubuhmu
aku inggin memanjat kakimu
aku ingin bercerita padamu
tentang seorang gadis yang kutemui tempo hari


Ayah, aku mengerti kini
arti amarahmu
libasan sapu lidimu
aku rindu padamu, kini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar