Minggu, 21 November 2010

DUKA CINTA INTAN ( Dimuat di MEDAN BISNIS)

DUKA CINTA INTAN ( Dimuat di MEDAN BISNIS)

PENULIS : Abdillah Putra Siregar


Intan menatap nanar pada ibu mertuanya. Ia tak bergeming. Diam terpaku. Bukan sekali dua kali sindiran yang menyayat hati itu melabuh ditelinganya.
“Dasar menantu sial, tak tahu diri” begitulah setiap hari mertuanya itu mencaci.
Diusia kelima pernikahan itu. Ia pikir semuanya akan berubah. Mertuanya akan bersikap baik dan mengangapnya bagian dari keluarga. Tapi nyatanya, perlakuan kasar juga kerap ia terima dari hari kehari.
“ Mas, aku ingin kita pindah dari rumah ini !” pintanya pada suaminya, Dika Alghifari.
“ Mengapa, Cinta? Apa kau tak suka berada dekat dengan keluargaku?” Ujar Andika lembut.
Intan diam. Ia tak mau mencari-cari alasan atau memberitahukan keadaan yang sebenarnya, yang kerap kali ia terima selama berada dirumah ini. Ia juga tak ingin terkesan mengadu domba hubungan baik suami dan ibu mertuanya itu. Bagaimanapun Dika selalu mengangap ibunya adalah ibu yang terbaik. Mana ada seorang anak yang tak mengangap baik ibu sendiri kecuali anak durhaka..
“ Cinta, jangan termenung bergitu, bagaimana kalau malam ini kita jalan berdua!” bujuk Dika mesra kepada istrinya.
Intan tersenyum.
“ Kayla, gimana mas?” tanyanya.
“ Kita minta tolong ibu menjaganya sebentar, beliau pasti tidak akan keberatan”
Intan beringsut. Ia mengembus nafasnya. Secercah takut menghampiri. Bagaimana jika ibu marah dan menyalahkannya , hatinya berbisik.

****


“ Intan..!”
Suara lengkingan Suminah , ibu mertuanya menggema dirumah besar itu. Memantul tajam ketelinga Intan. Seketika Intan menolehkan kepalanya menghadap arah datangnya suara. Wanita paru baya berkebaya itu sudah berdiri garang dibelakangnya. Wajahnya dingin. Dadanya turun naik. Nafasnya saling memburu dan berkejaran dengan detak jantung wanita baya berusia 50 tahun itu. Bibirnya menahan geram.
“ Ada apa, Bu? Mengapa harus berteriak begitu?”
“ Menantu kurang ajar, enak- enakan kowe pergi dengan anakku tadi malam dan menitipkan anakmu padaku” repet Suminah panjang.
Intan tertunduk. Ia tak berani menatap wajah yang telah merah padam itu. Suminah mendekatinya.
“ Kau pikir aku ini tempat penampungan anak! “ amuk suminah lagi.
Intan bergeser ke belakang. Pelan. Suminah semakin mendekati. Mulutnya tak henti melontari Intan dengan kata- kata kasar. Ia bahkan memutari tubuh Intan. Menghentak- hentak kuat jidat menantunya dengan telunjuk kanan wanita bertubuh besar itu . Intan mengangkat wajahnya sebentar . Melirik mata mertuanya. Ia bergidik. Matanya bersirobok. Ia ketakutan. Mata itu begitu buas, seolah ingin menyantapnya bulat- bulat.
“ Sekarang kau copot jilbamu itu !“ ujar Suminah memaksa.
“ Untuk apa Bu?” Intan menjawab terbata.
“ Buka !” paksa wanita tua itu lagi.
Intan tergerap. Ia memagang kuat kepalanya.
“Jangan, Bu!” ucapnya lirih.
Tapi tangan wanita itu telah melampaui segalanya. Ia mencopot paksa jilbab Intan .Intan sesenggukan. Rambut panjang hitam legamnya terburai berserakan. Suminah menatap puas. Ia memandang Intan yang tertunduk wajah denagn senyum tipis sinis. Air mata Intan susul menyusul. Suminah mengangkat dagu menantunya itu. Matanya menangkap selingkar kilau menghias indah di leher Intan. Senyumnya mengembang.
“Berikan kalung itu padaku !” ucapnya pelan didekat telinga Intan.
Intan menggeleng .
“ Jangan Bu, ini hadiah pernikahan dari mas Dika “ ucapnya lusuh.
“Serahkan atau akan kuatur rencana untuk menghancurkan kebahagian rumah tanggamu! “ Suminah berucap ancam.
Intan tergeragap lagi. Spontan wajahnya terangkat menantang. Matanya beradu tajam dengan mata Suminah.
“ Astaghfirullah,Ibu, atas dasar apa Ibu melakukan itu, apa ibu tidak kasihan pada anak ibu sendiri ?’tanya Intan menantang.
Suminah tersenyum tipis.
“ Siapa bilang suamimu anak kandungku?” ujaranya menyeringai tajam.
Intan tercenung. Benarkah ucapan mertuanya itu, gumamnya. Airmatanya sudah mengumpal hebat di kedua mata indah itu. Bahkan ia diam saja saat ibu mertuanya itu menarik paksa kalung itu dari lehernya.

****


Diluar sana senja meniti perih. Hujan reda tak reda. Intan duduk ditepi ranjang kamarnya yang serba putih. Ia masih terjebak pada ucapan mertuanya siang tadi. Air matanya susul menyusul lagi. Pelan pintu terketuk. Ia mengenal pasti ketukan itu. Ketukan pintu khas suaminya. Ia berdiri spontan. Memandang sejenak didepan cermin. Ia benahi penampilannya. Ia tak boleh terlihat sedih. Ia hapus bekas air mata di pipi. Kemudian melesat membuka pintu.
“ Wajahmu lelah sekali,Mas?tanyanya hangat pada suamimya itu
“ Aku tak apa,cinta “ ucapnya sambil mengecup dalam kening istrinya.
Air mata Intan kembali jatuh. Beribu dilema ada dibenaknya. Yang paling berat adalah haruskah ia mengatakan apa yang telah dikatakan oleh mertuanya tadi pada suaminya ini?
“ Mengapa menangis cinta,?” tanya Dika penasaran.
“ aku tak apa sayang, aku hanya sedikit kelelahan menemani sikecil bermain” jawabnya.
“ tapi matamu sem…”
Belum sempat dika meneruskan kata- katanya itu. Intan sudah menyerahkan handuk dan pakaian ganti suaminya itu.
“ Mandilah, tubuhmu bau !” ujarnya manja.

Gamang. Intan kembali duduk di tepi ranjang tidurnya. Memandang lekat pada cermin besar. Pikirannya menerawang. Ia bersyukur memiliki suami yang bertanggung jawab, lembut dan penuh pengertian seperti Dika. Hanya lelaki ini yang membuatnya hanyut. Ia ingat awal- awal rencana pernikahan yang tak pernah disangkanya itu.

“ Menikahlah denganya nduk, sebab tak ada wanita sebaikmu yang pantas mendampinginya “ ujar pak Nugroho, yang terbaring lemah dirumah sakit itu.
“ Tapi pak , saya bukan orang yang tepat, saya hanya seorang perawat” ucapnya pelan.
“ Bapak yakin , dika tidak akan mempermasalahkan statusmu “ ucapnya lagi.
Intan dilema . haruskah ia mengabulkan permintaan bapak tua dihadapannya ini. Apakah ia layak menikah dengan dokter itu.
“ Dika itu anak semata wayangku, aku ingin perempaun yang tulus yang menjaganya “ ujar Nugroho lagi.
Tiba- tiba pintu terkuak. Seorang pemuda tampan berjas putih masuk. Intan memandangnya sekilas. Hatinya berdesir.
“ Bapak sudah makan sus? “ tanya Dika kepada perawat ayahnya itu.
Intan menganguk.
“ Dika , maukah kau mengabulkan satu permintaan ayah?” tanya ayahnya lemah.
Dika menganguk.
“Menikahlah dengan Intan ! “
Dika terkesiap. Ia memandang gadis berjilbab dihadapanya itu.
“ Kamu maukan ?” tanya ayahnya memastikan.
Dika sedikit ragu. Ia memandang bergantian wajah keduanya. Intan tertunduk dalam.
“ baik ayah, Dika akan menikah dengan Intan “ ucapnya pasti denagn kesadaran yang dalam. Sebab sebenarnya diam- diam ia mengagumi gadis manis berkulit putih itu. Intan terkejut. Pak Nugroho mengulum senyum dalam. Dari balik pintu yang sedikit terkuak Suminah memandang tajam.

“ Cinta, sayang, ada apa ?” sapa Dika membuyarkan lamunan istrinya.
Intan tersenyum singkat . ia mencium kening suminya dalam. Tiba- tiba dari luar, pintu kembali terketuk. Samar- samar terdengar suara.
“ Den Dika, dipanggil nyonya ke ruang makan !” ujar bik Minah.

****

“Dik, ibu memasakan makanan kesukaanmu, sop ayam special “ ucap Suminah di meja makan itu.
“ Ibu, tak usah terlalu repot- repot begini” ucapnya lembut sambil mencium pipi kiri ibunya itu.
“ Kau harus menghabiskannya , Ibu membuatnya dengan bumbu cinta khusus untukmu” ucap Suminah.
Dika mengambil piring dan menyendokkan sendiri nasi kepiringnya. Perutnya memang sudah sangat lapar. Suminah memberikan semangkuk sop ayam itu. Baunya harum sekali. Asap mengepul. Tapi dika tidak sabar. Ia mengambil senduk dan menyerutnya pelan. Ah, nikmat sekali, hatinya bergumam. Suminah tersenyum sinis. Dika terus saja melahap sesendok demi sesendok. Beberapa menit kemudian, tiba- tiba tenggorokannya tercekat, matanya memerah, Urat- urat lehernya bermunculan. Ia tersedak . ia raih segelas air. Dari dalam mulutnya mulai mengalir buih putih. Ia memandang ibunya itu. Wanita itu tertawa membahana. Dika semakin parah. Tubuhnya sudah mengejang .Buih- buih dimulutnya semakin menggumpal. Ia tak bisa lagi berucap. Kepalanya terkulai seolah patah diatas meja. Suminah terus tertawa. Tak sadar. Intan telah melihat semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar