Minggu, 21 November 2010

RINDU UTARI (a cerpen by Abdillah ) dimuat di Medan Bisnis, 4 July 2010.

RINDU UTARI

Angin pantai berhembus kencang. Kencang dan kencang sekali. Bertepi luruh pada warna jingga yang menyemburat di cakrawala. Lembayung memesona. Dalam dekapan rindunya Utari memandang lamat laut lepas. Berjalan pelan menyusuri pantai. Ia memeluk dirinya sendiri. Rambut hitam legamnya melayang lembut. Indah. Kakinya meninggalkan jejak tapak yang segera tersapu lidah ombak yang terhempas.

Utari menyisir rindu di tepi laut. Sendiri. Di pantai itu berhari- hari ia menanti. Dari pagi dan senja baru kembali. Orang-orang kampung nelayan situ sudah mengenal betul tabiat gadis yang terkenal kecantikannya ini.

Sejak dua bulan lalu, ayahnya tak kembali usai melaut. Sejak itulah Utari senang berlama- lama mencari entah apa. Melihat entah apa di pantai itu. Para nelayan kampung bukan tak berusaha mencari. Berhari, berminggu mencari ayahnya yang entah kemana. Nihil. Jika tenggelam, jasadnya pun tidak ditemukan. Ayahnya seolah raut ditelan laut atau di hempas menggelinding ke tempat entah dimana.

Sudah berbusa mulut orang kampung memperingati Utari, agar tak mencari ayahnya lagi. Ikhlaskan sajalah, begitu kata mereka. Utari seolah tak peduli. Ia suka menyendiri sekarang. Orang kampung nelayan itu hanya tak tahu saja. Utari akan menemukan ayahnya kembali. Ia juga tak peduli dengan anak- anak kecil yang bermain kejar- kejaran dengan ombak, menari meliuk bersama angin pantai, menggenggam pasir putih lalu membangun rumah-rumahan, benteng- bentengan dan istana-istanaan.

“Utari, pulang!” teriak neneknya.
Ia hanya menoleh sesaat. Lalu melempar kembali pandangannya ke laut yang hijau.
****


Pagi ini dan seperti pagi-pagi lainnya. Belum lagi Fajar merangkak. Utari sudah duduk diatas perahu yang karam. Memeluk kaki. Ia bahkan membiarkan rambut panjang hitam legamnya terburai menari bersama angin subuh.

Beberapa jenak, perlahan cahaya keemasan menyemburat pagi. Menyapu laut, menyisir pantai. Selain ingin mencari entah apa, inilah panorama pagi yang menggoda Utari untuk datang setiap pagi. Cahaya keemasan itu menerangi sekitarnya. Karang yang teronggok di tepi pantai seolah menemukan napasnya kembali. Pasir- pasir putih basah berkilau serupa tumpukan berlian yang berserakan tumpah dari langit. Berbinar, bersinar, indah.

Perlahan pula lidah ombak menyentuh dasar ujung perahu karam,.seperti menyapa Utari dan mengucapkan selamat pagi. Namun, Utari, seperti hari yang lalu, tetap sama. Hanya memandang laut lepas.

Para nelayan kampung tak ada lagi yang mau menegur Utari. Sebab ditegur atau tidak sama saja. Kecuali, Banu, pemuda tanggung yang diam- diam menitip rindunya untuk Utari sejak kecil dulu, hanya dalam hati sebab Banu tak pernah menyampaikan isi hatinya itu kepada Utari.

“Lihatlah, air laut yang berwarna hijau itu!” sapa Banu. Utari mencari- cari arah suara.
“Aku di belakangmu” ujarnya lagi lalu melompat keatas perahu dan duduk disamping Utari.
“Indah, bukan?” Utari bersuara.
Banu tersenyum.
“Aku akan melaut pagi ini, kau mau ikut denganku?” Tawar Banu.
“Benarkah?” Tanya Utari mencari kepastian. Banu menganguk
“Pagi ini jam delapan, datanglah, aku akan menunggumu, kita akan mencari ayahmu”ucap lelaki jangkung itu lalu melompat dari perahu karam itu.
Utari tersontak girang. Ia tergeragap memandang lamat wajah Banu. Tak perlu menanyakan kepastian lagi, sebab binar mata Banu yang menjawab semuanya. Utari pun berdiri, tak lagi memeluk kaki , tak juga tubuhnya. Ia berdiri garang di ujung perahu karam itu. Angin pantai mendesau. Banu tersenyum. Rambut gondrongnya menari seindah senyuman Utari.
“Ayah, tunggulah!”ujarnya tersenyum memandang laut lepas.
****

Di pantai, terdengar suara deru mesin perahu. Utari berlari begitu cepat. Di bibir pantai itu Banu telah menantinya.
“Sudah izin dengan nenekmu?”
Utari menggeleng.
“Kau harus bilang, nanti dia mengira aku melarikanmu” ujar Banu lagi.
“Sudahlah, ayo kita berangkat, sebelum hari beranjak siang, sebelum matahari terlampau panas” jawabnya.
Utari tampak begitu tergesa.
“Utari, mau kemana?”
Seorang nenek muncul tiba-tiba, jarak mereka tak begitu jauh dari perahu yang mulai mengapung itu. Lidah- lidah ombak menghalang langkah wanita tua itu, pekikan suaranya dikalahkan oleh deburan ombak yang menghempas karang. Utari tersenyum tipis.Wajahnya tempias menantang angin kencang yang bergemuruh. Jejak- jejak kakinya masih tertinggal satu- satu di pantai.
“Aku ingin mencari ayah” jeritnya pada laut.
Perahu pun semakin melaju membelah air
****

Senja mulai merambat. Angin dingin terdengar menderu-deru. Desauanya menyatu padu bersama debur air yang menghempas perahu Banu. Mencipta harmoni yang mendebarkan
Semburat jingga mulai melukis di perut laut. Indah. Luar biasa. Camar kejar mengejar di langit. Perahu- perahu nelayan satu persatu mulai menepi pulang. Berjajar kembali di tepi pantai sepanjang kampung nelayan. Tapi, sesore ini, perahu Banu tak ada. Utari tak ada.
Neneknya sibuk bertandang dari satu gubuk ke gubuk lain. Ia menanyaka cucunya yang dibawa bersama perahu Banu. Nihil , entah mengapa jawaban nelayan- nelayan kampung itu semua sama. Tak melihat Utari juga perahu Banu. Nenek tercenung sendiri diatas perahu karam tempat dimana Utari biasa duduk menghabiskan rindunya pada ayah.
“Kemana kamu Tari, mengapa sesore ini belum pulang juga?” ucapnya lirih
****

Sepenuhnya Utari mulai menyadari, pencarian ini semakin melelahkan tanpa hasil. Mereka bahkan telah melampaui batas perairan menambang ikan para nelayan. Mereka menuju entah. Lelangit mulai mengelam. Angin dingin mulai menyusup ke tulang. Mereka terombang- ambing dalam pekat malam. Terdampar di tengah laut yang tak mereka kenal. Mesin telah padam. Langit mendung. Bintang tak ada.
“Banu, maafkan aku menyusahkanmu” ucapnya pelan.
“Tak apa, Utari, aku juga minta maaf , terpaksa kita harus bermalam seperti ini” ucap Banu sopan.
Utari tersenyum lama. Ia memandang wajah lelaki dihadapannya itu. Lalu menengadah memandang purnama yang tersaput awan kelam.
“aku yakin, kita akan bertemu dengan ayah” ucapnya lirih.
Banu diam.
****

Nenek masih tampak gelisah. Ia benar-benar hampir putus asa. Sepagi ini Utari belum juga pulang. Diam-diam ia berprasangka, bagaimana jika kapal mereka karam di laut di hempas gelombang ombak. Cucunya memang bisa berenang, namun apakah mampu bertahan di tengah laut lepas dalam waktu yang lama? Para nelayan kampung mulai gelisah. Pun orangtua Banu. Mereka membayangkan sesuatu yang buruk tengah menimpa.
“Bagaimana ini? Kita harus mencari mereka” nenek berujar cemas, suaranya parau.
“Tenanglah nek, aku yakin mereka tak apa-apa?”kata ayah banu.
“tapi..bagaimana jika kapal mereka karam…lalu terseret gelombang laut dan terdampar entah di tempat mana? Mamak banu menimpali.
“kita tunggu sampai tengah hari, kalau mereka tak pulang juga, kita adakan pencarian”ayah Banu mencoba menenangkan.
Laut mulai menyurut. Ombak berdebur dan menghempas ganas ke dinding-dinding karang. Di pantai orang-orang berharap cemas.
****
Tengah hari berlalu. Perahu, Banu dan Utari masih tak tampak. Orang –orang kampung yang sedari pagi sibuk menyusuri bibir pantai mondar-mandir memandang laut. Para nelayan sigap mencari ke seluruh penjuru tempat biasa mereka mencari ikan. Seperti biasa, senja mereka kembali, merapatkan perahu-perahu mereka. Wajah letih menggurita. Banu dan uteri tak jua ditemukan. Hingga senja mulai beranjak pergi.
Ini malam kedua Banu dan Utari hilang. Penduduk nelayan kampung mulai menyerah pasrah. Nenek tidak. Ia masih menyimpan harapan besar. Ia sangat yakin cucunya baik-baik saja dan akan segera pulang.
Sementara itu, dibelahan laut lainnya. Banu tengah terengah-engah mendayung perahunya. Pun utari, wajah keduanya begitu lelah. Meraka bertempur habis-habisan dengan gelombang dan hujan yang menguyur. Sesekali kilat menyambar, petir saling silang. Suara bergemuruh hebat dilangit yang kelam. Angin mulai ribut. Langit malam menyeringai tajam. Tapi kedua manusia itu tak peduli. Mereka terus mendayu dan mendayu. Laut bagai permadani yang dibentangkan. Bergelombang, bergemuruh, menakutkan. Perahu mereka doyong kiri dan kanan, perahu kecil itu tampak begitu tak seimbang. Kini mereka pasrah, tubuh mereka telah kuyup semuanya. Perahu itu semakin oleng. Kini mereka berharap gelombang besar itu menggelindingkan tubuh mereka ke kampung halamannya. Banu mengenggam erat jemari utari. Seolah tak rela berpisah. Namun entah mengapa Utari melepaskan gengaman itu. Ia tersenyum simpul, wajahnya menengadah kelangit beradu dengan guyuran lebat hujan. Di langit sana, ia seperti melihat ayahnya.

Medan, siang hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar