Sajak Cinta
“Andaikan kau datang kembali,jawaban apa yang akan kuberi”
Kau menyebut cinta; jika hatimu berbunga-bunga menyebut namanya. Berdesir-desir hati,jika ia menatap lekat dua bola matamu,berdegup kencang jantungmu,jika ia mengucap kata indah.
Begitulah. Pun dengannya. Lelaki yang katanya tak mau jatuh cinta. Meski harus juga terkapar tak berdaya ketika matanya bersitatap tanpa sengaja dengan seorang bidadari yang ia kira sengaja Allah turunkan untuknya. Ya, hanya untuknya. Begitu yakinnya ia? Sombong ,bukan?
Begitulah, pun sama denganya. Ia berkenalan , tapi tak meminta nomer ponsel. Hanya menanyakan, hendak sholat ke mana kita Ashar ini? Ah, romantis kedengarannya. Seorang lelaki menanjak dewasa menanya perempuan berkerudung lebar. Sesekali mereka tergelak. Ah, agaknya keduanya terhasut fitnah setan.
Lelaki itu bermata sendu. Perempuan itu berwajah pualam. Lembut dan eksotis. Wajahnya penuh pikat bagi yang memandang. Itulah agaknya mengapa ia selalu berjalan tertunduk. Ia sadar benar ia punya pesona tak biasa.
Lelaki itu sering menggodanya. Meski masih lumayan sopan jika dibandingkan pengumbar gombal. Terkadang ia sadar ia keterlaluan. Bagaimana pun, sejago apapun mereka menghindar. Dua bola mata setan tak henti mengintai.
Petang itu. Pada sebuah beranda. Saat langit berwarna oranye. Lelaki itu berdiri pada ambang pintu. Menengadah. Seperti mencari entah apa. Pada tempat yang lain. Pun perempuan itu menopang dagu pada bingkai jendela. Melihat entah apa. Kelakuan mereka sama persis. Meraba wajah di kumpulan awan.
Malam menjerang. Pecah juga kata-kata itu. Aku ingin menikah denganmu, katanya. Perempuan tertunduk malu. Ia malu pada bulan yang celurit di perut langit. Aih, bersemu merah.Ia benamkan dalam tundukan wajahnya.
Kau mau? Tanyanya. Tak ada suara. Diam bertanda iya.
Perempuan mengangkat wajahnya pelan. Ia mencari ketulusan di kedua mata lelaki itu. Ah,bagi perempuan itu, mencintai adalah sekali. Tak boleh punya banyak cinta.
Aku mau,jika kau tulus mencintaiku karena Allah. Klise memang. Tapi ini pintaku.
Lelaki tergelak. Ia menahan napasnya sebentar.
Kapan aku bisa menikahimu?
Datanglah dua purnama lagi.
Lelaki tersenyum.
Sebelum itu terjadi. Jangan pernah kirimi aku salammu. Aku hanya ingin membagi cinta untuk suamiku.
Lelaki nelangsa. Itu berat baginya.
Berarti kita berjarak.
Sabar, kata perempuan itu.
Lelaki itu menunduk. Tak berani menatap lama.
Penjemput Hikmah
Randu Falsafah Siregar adalah nama pena dari Abdillah Putra Siregar.
Sabtu, 21 Mei 2011
Minggu, 17 April 2011
Rumah Kopi Singa Tertawa
Cerpen Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 10 April 2011)

Meja 7
“Kau masih suka cappuccino kan, Mas?”
“Tentu saja. Ada apa? Kenapa menarik-narik rambut dan senyam-senyum seperti itu?”
“Kalau begitu mari angkat cangkir.”
“Ayo!”
“Kau pembohong yang manis, dari dulu kau memang tak suka minuman ini.”
“Ketahuan, ya? Habis bagaimana, kalau tidak tubruk tidak mantap. Bahkan, kopi kampung yang dicampur bubuk jagung pun lebih enak ketimbang favoritmu ini.”
“Ngawur, ah. Mengapa sih butuh enam bulan pura-pura suka?”
“Aku tak mau membuatmu kecewa.”
“Kenapa tak boleh kalau hanya urusan kopi?”
“E…, aku ingin mengesankanmu.”
“Ha ha ha. Payah, ah. Kalau ingin membuatku terkesan, kenapa tak menari di tengah sana dengan kaki terangkat sebelah dan lidah terjulur?”
“Sungguh?”
“Tidak, dungu.”
Meja 10
“Kalau yang diminta bergerak orang-orang itu agak repot, Bang.”
“Harganya lebih tinggi?”
“Bukan itu, mereka panasan. Bisa geger nanti.”
“Malah bagus, tho?”
“Kalau ada yang mati?”
“Pelankan suaramu.”
“Sori.”
“Prinsipnya, mereka jangan sengaja disuruh bunuh orang begitu, kita ini bukan binatang. Tapi, kalau terpaksa ada yang habis, apa boleh buat.”
“Kodenya apa?”
“Pita biru.”
Meja 4
“Tetap Sora Aoi, Miyabi pipinya nggak halus.”
“Malah alami, dong. Sora sampai sekarang mainnya begitu-begitu saja. Belum berani nggak sensor.”
“Nggak pentinglah itu, kita kan tetap bisa membayangkan.”
“Tanggung.”
“Tapi penghayatannya, Bung, penghayatannya. Bahkan kalau lawan mainnya kayak babi sekalipun, Sora tetap menciumnya sepenuh hati.”
“Layak menang Oscar? Ha ha ha. Okelah, malah enak, kita tak perlu bertengkar siapa milih siapa bila suatu hari tiba-tiba saja kita terjebak di kamar bersama mereka. Tapi, tahu tidak, Bung, sekarang ini di Jepang yang lagi naik daun justru pemain yang tua-tua.”
“Genre mature dan lolita kan sudah dari dulu ada?”
“Bukan, yang ini tua lawan tua, nenek-nenek lawan kakek bau tanah.”
“Jangkrik!”
“Tentu tidak sepopuler film yang pakai bintang-bintang AV yang muda, tapi ada ceruk bisnisnya. Trennya naik.”
“Dan lidah nenek-nenek itu juga bertualang ke bagian tubuh manusia yang tak pernah tersentuh sinar matahari?”
Meja 13
“Kalau lu nggak mau balik, gua bakal jadi homo. Dan, kalau gua kenapa-kenapa, lu yang dosa!”
Meja 7
“Aku ingin setia kepadamu, Maura, janji.”
“Apa maksudmu?”
“Apa maksudmu dengan ‘apa maksudmu’? Setia ya setia.”
“Aneh, kok tiba-tiba bilang begitu. Lagi pula kok tidak deskriptif, katanya dulu pernah ikut kelas penulisan kreatif?”
“Apa anehnya? Justru kamu yang aneh, biasanya wanita tersanjung kalau pasangannya bilang begitu.”
“Aturan mana?”
“Buku roman, telenovela, atau sinetron Korea yang kautonton?”
“Aku kok tidak?”
“Tidak tergetar atau tidak merasa aneh?”
“Deskripsikan apa yang kaumaksud dengan kata aneh.”
“Aneh itu adalah… ah, sial! Ngapain aku harus nuruti keinginan anehmu?”
“…eh, eh, kok main cium, sih?”
“Biarin, gemas. Aku jadi tak mengerti dirimu.”
“Kalau tak mengerti mengapa pakai janji segala?”
“Tak mengerti bukan berarti tak bisa berjanji.”
“Lha itu, Mas Setaku sayang, dungu namanya.”
Meja 2
“Mbak Septi bagaimana?”
“Sedih aku sebetulnya. Tapi, bagaimana lagi. Perasaan merana itu kan susah disembuhkan. Dua tahun terakhir sudah mendingan, tapi minggu lalu kembali lagi seperti dulu.”
“Pas setelah eksekusi?”
“Sebetulnya sebelumnya sudah ketika berita eksekusi si anjing itu mulai ramai di televisi. Tapi, kukira siapa pun yang diingatkan akan nasib buruk anaknya yang mati dirusak dan dipotong-potong akan nelangsa berkepanjangan seperti itu.”
“Anu, menurutmu, pantas tidak aku dolan ke rumah kakakmu itu?”
“Jangan main-main.”
“Aku sangat serius. Kautahu, aku sudah suka kepada mbakyumu sejak kita masih SMP. Sungkan saja yang membuatku menahan diri. Mungkin takut dianggap ingusan juga. Tapi, sekarang kan sudah sama berumur. Lagi pula aku bukan jenis laki-laki seperti bekas suaminya.”
“Aku bilang lagi-lagi, jangan main-main. Kautahu, ia benar-benar… Oke, oke, pelan-pelan, oke?”
Meja 1
“Aku tadi baca di Yahoo, Marion Bartoli bilang IQ-nya 175.”
“Lebih tinggi ketimbang Einstein, dong?”
“Iya, ha ha ha, Einstein cuma 160. Tapi yang ciamik, si Marion ini omong kalau selama ini tidak bilang-bilang karena tidak ingin pamer ia itu pintar.”
“IQ tinggi tapi servis pertamanya kok busuk ya? Peringkatnya biasa-biasa, mana tampang biasa lagi. Cantikan juga Marion Cotillard yang sama-sama Prancis.”
“Jangan dilawankan bintang film, dong.”
“Kalau di tenis juga masih banyak yang lebih mantap. Maria Sharapova tetap yang paling sedap.”
“Kembali ke soal kecerdasan, si Einstein itu sebetulnya sering tidak cerdas juga lho.”
“Soal dia minta bantuan Marcel Grossman untuk ngerjain hitungan matematika Relativitas Umum?”
“Bukan, aku kemarin baca bahwa sebagian besar uang hadiah Nobelnya ludes gara-gara salah pilih investasi.”
Meja 8
“Aku sudah pesankan. Nasi goreng wagyu, marble sembilan.”
“Dekaden betul.”
“Makan enak itu transendental.”
“Tapi masa marble sembilan hanya jadi lauk nasi goreng?”
Meja 7
“Kalau Mas bilang ingin setia, apa itu berarti kau juga ingin aku setia?”
“Aduh, jelas dong.”
“Itu tiran namanya, fasis.”
“Serius ini, memangnya kau tak keberatan aku main gila?”
“Kalau itu maumu, aku bisa apa?”
“Tidak sakit hati?”
“Pasti, tapi apa bisa melarang? Laki-laki dilarang sampai berbuih pun percuma kalau memang punya niatan ke sana. Untuk adilnya, wanita juga.”
“Bisa gila aku sore ini. Bagaimana kalau sudah menikah?”
“Terserah mereka.”
“Kok mereka?”
“Ya mereka yang menikah itu.”
Meja 9
“Si Tennyson ini pasti bodoh atau sok tahu luar biasa.”
“Ada apa, Neng, mendadak sewot begitu? Teni… sopo, tho?”
“Alfred Lord Tennyson.”
“Bos baru di kantormu?”
“Bukan, dia ini… Begini deh, dia ini dulu sekali kira-kira pernah bilang kalau lebih baik pernah bercinta sekalipun akhirnya putus di tengah jalan ketimbang nggak pernah mencintai sama sekali. Apa tidak gemblung, Mbak?”
“Menurutku apik itu, orang jadi punya kenang-kenangan.”
“Ah mending tidak cinta-cintaan. Sakitnya itu betul-betul lho, Mbak. Hati, Mbak, hati.”
“Lho, lho, memang belum lupa tho sama yang kemarin? Kan sudah lama….”
“Ini deh, Mbak, baca.”
“Cilik-cilik hurufnya. Besarin dikit kenapa?”
“…nah, sudah baca sendiri kan. Aku tadi iseng baca di taksi waktu ke sini, dapat terusan dari teman kantor. Bayangkan, Roy C. Sullivan, si park ranger Amerika itu kesamber petir tujuh kali tidak mati-mati, paling lecet saja. Begitu ditolak cinta, langsung bunuh diri. Apa ini bukan lebih baik nggak usah demen-demenan?”
“Jadi si Teni… itu bodoh karena ada orang bunuh diri gara-gara hatinya remuk?”
“Seratus persen, tanpa diskon.”
“Ah, kalau aku kok ora cocok.”
Meja 4
“Lihat tuh mbak-mbak yang baru datang dan duduk di situ. Mantap, Bung.”
“Jangkrik! Matamu itu lho. Apa lupa pelajaran di sekolah? Tataplah orang pada matanya….”
“Kecuali susu mereka benar-benar bulat….”
“Jangkrik! Salah posisi aku.”
Meja 13
“Kalau lu nggak mau balik, gua….”
“Mau apa? Mau apa?”
Meja 7
“Kukira Mas tak pernah memintanya.”
“Jangan menangis ah, malu.”
“Biar.”
“Ternyata kamu yang telenovela.”
“Terserah. Tapi, kalau selama ini Mas Seta ragu-ragu, aku lebih lagi karena tak ada kepastian dari Mas.”
“Kau kan bisa melamarku lebih dahulu?”
“Apa?”
“Katanya progresif?”
“Katanya gentleman, melamarnya tadi kok pakai bentak-bentak?”
“Harusnya bagaimana?”
“Apa yang kaupelajari dari buku roman?”
“Sang laki-laki berlulut, merogoh kantong, dan mengeluarkan cincin.”
“Mengapa tak kaulakukan itu?”
“Tak ada cincin padaku saat ini.”
“Lupakan cincinnya, lakukan berlututnya.”
“Benar-benar telenovela.”
“Biar, ayo cepat.”
“Baik. Maukah kau Maura Wigati Sulaiman menjadi istriku?”
“Dengan satu syarat.”
“Sebutkan segera.”
“Kauhabiskan dua cangkir cappuccino ini.”
“Ternyata kau yang tiran, yang fasis.”
“Biar.”
Meja 13
“Tolong! Tolong!”
Meja kasir
“Oalah, goblok, goblok! Mau mampus kok di warung orang!” (*)

Meja 7
“Kau masih suka cappuccino kan, Mas?”
“Tentu saja. Ada apa? Kenapa menarik-narik rambut dan senyam-senyum seperti itu?”
“Kalau begitu mari angkat cangkir.”
“Ayo!”
“Kau pembohong yang manis, dari dulu kau memang tak suka minuman ini.”
“Ketahuan, ya? Habis bagaimana, kalau tidak tubruk tidak mantap. Bahkan, kopi kampung yang dicampur bubuk jagung pun lebih enak ketimbang favoritmu ini.”
“Ngawur, ah. Mengapa sih butuh enam bulan pura-pura suka?”
“Aku tak mau membuatmu kecewa.”
“Kenapa tak boleh kalau hanya urusan kopi?”
“E…, aku ingin mengesankanmu.”
“Ha ha ha. Payah, ah. Kalau ingin membuatku terkesan, kenapa tak menari di tengah sana dengan kaki terangkat sebelah dan lidah terjulur?”
“Sungguh?”
“Tidak, dungu.”
Meja 10
“Kalau yang diminta bergerak orang-orang itu agak repot, Bang.”
“Harganya lebih tinggi?”
“Bukan itu, mereka panasan. Bisa geger nanti.”
“Malah bagus, tho?”
“Kalau ada yang mati?”
“Pelankan suaramu.”
“Sori.”
“Prinsipnya, mereka jangan sengaja disuruh bunuh orang begitu, kita ini bukan binatang. Tapi, kalau terpaksa ada yang habis, apa boleh buat.”
“Kodenya apa?”
“Pita biru.”
Meja 4
“Tetap Sora Aoi, Miyabi pipinya nggak halus.”
“Malah alami, dong. Sora sampai sekarang mainnya begitu-begitu saja. Belum berani nggak sensor.”
“Nggak pentinglah itu, kita kan tetap bisa membayangkan.”
“Tanggung.”
“Tapi penghayatannya, Bung, penghayatannya. Bahkan kalau lawan mainnya kayak babi sekalipun, Sora tetap menciumnya sepenuh hati.”
“Layak menang Oscar? Ha ha ha. Okelah, malah enak, kita tak perlu bertengkar siapa milih siapa bila suatu hari tiba-tiba saja kita terjebak di kamar bersama mereka. Tapi, tahu tidak, Bung, sekarang ini di Jepang yang lagi naik daun justru pemain yang tua-tua.”
“Genre mature dan lolita kan sudah dari dulu ada?”
“Bukan, yang ini tua lawan tua, nenek-nenek lawan kakek bau tanah.”
“Jangkrik!”
“Tentu tidak sepopuler film yang pakai bintang-bintang AV yang muda, tapi ada ceruk bisnisnya. Trennya naik.”
“Dan lidah nenek-nenek itu juga bertualang ke bagian tubuh manusia yang tak pernah tersentuh sinar matahari?”
Meja 13
“Kalau lu nggak mau balik, gua bakal jadi homo. Dan, kalau gua kenapa-kenapa, lu yang dosa!”
Meja 7
“Aku ingin setia kepadamu, Maura, janji.”
“Apa maksudmu?”
“Apa maksudmu dengan ‘apa maksudmu’? Setia ya setia.”
“Aneh, kok tiba-tiba bilang begitu. Lagi pula kok tidak deskriptif, katanya dulu pernah ikut kelas penulisan kreatif?”
“Apa anehnya? Justru kamu yang aneh, biasanya wanita tersanjung kalau pasangannya bilang begitu.”
“Aturan mana?”
“Buku roman, telenovela, atau sinetron Korea yang kautonton?”
“Aku kok tidak?”
“Tidak tergetar atau tidak merasa aneh?”
“Deskripsikan apa yang kaumaksud dengan kata aneh.”
“Aneh itu adalah… ah, sial! Ngapain aku harus nuruti keinginan anehmu?”
“…eh, eh, kok main cium, sih?”
“Biarin, gemas. Aku jadi tak mengerti dirimu.”
“Kalau tak mengerti mengapa pakai janji segala?”
“Tak mengerti bukan berarti tak bisa berjanji.”
“Lha itu, Mas Setaku sayang, dungu namanya.”
Meja 2
“Mbak Septi bagaimana?”
“Sedih aku sebetulnya. Tapi, bagaimana lagi. Perasaan merana itu kan susah disembuhkan. Dua tahun terakhir sudah mendingan, tapi minggu lalu kembali lagi seperti dulu.”
“Pas setelah eksekusi?”
“Sebetulnya sebelumnya sudah ketika berita eksekusi si anjing itu mulai ramai di televisi. Tapi, kukira siapa pun yang diingatkan akan nasib buruk anaknya yang mati dirusak dan dipotong-potong akan nelangsa berkepanjangan seperti itu.”
“Anu, menurutmu, pantas tidak aku dolan ke rumah kakakmu itu?”
“Jangan main-main.”
“Aku sangat serius. Kautahu, aku sudah suka kepada mbakyumu sejak kita masih SMP. Sungkan saja yang membuatku menahan diri. Mungkin takut dianggap ingusan juga. Tapi, sekarang kan sudah sama berumur. Lagi pula aku bukan jenis laki-laki seperti bekas suaminya.”
“Aku bilang lagi-lagi, jangan main-main. Kautahu, ia benar-benar… Oke, oke, pelan-pelan, oke?”
Meja 1
“Aku tadi baca di Yahoo, Marion Bartoli bilang IQ-nya 175.”
“Lebih tinggi ketimbang Einstein, dong?”
“Iya, ha ha ha, Einstein cuma 160. Tapi yang ciamik, si Marion ini omong kalau selama ini tidak bilang-bilang karena tidak ingin pamer ia itu pintar.”
“IQ tinggi tapi servis pertamanya kok busuk ya? Peringkatnya biasa-biasa, mana tampang biasa lagi. Cantikan juga Marion Cotillard yang sama-sama Prancis.”
“Jangan dilawankan bintang film, dong.”
“Kalau di tenis juga masih banyak yang lebih mantap. Maria Sharapova tetap yang paling sedap.”
“Kembali ke soal kecerdasan, si Einstein itu sebetulnya sering tidak cerdas juga lho.”
“Soal dia minta bantuan Marcel Grossman untuk ngerjain hitungan matematika Relativitas Umum?”
“Bukan, aku kemarin baca bahwa sebagian besar uang hadiah Nobelnya ludes gara-gara salah pilih investasi.”
Meja 8
“Aku sudah pesankan. Nasi goreng wagyu, marble sembilan.”
“Dekaden betul.”
“Makan enak itu transendental.”
“Tapi masa marble sembilan hanya jadi lauk nasi goreng?”
Meja 7
“Kalau Mas bilang ingin setia, apa itu berarti kau juga ingin aku setia?”
“Aduh, jelas dong.”
“Itu tiran namanya, fasis.”
“Serius ini, memangnya kau tak keberatan aku main gila?”
“Kalau itu maumu, aku bisa apa?”
“Tidak sakit hati?”
“Pasti, tapi apa bisa melarang? Laki-laki dilarang sampai berbuih pun percuma kalau memang punya niatan ke sana. Untuk adilnya, wanita juga.”
“Bisa gila aku sore ini. Bagaimana kalau sudah menikah?”
“Terserah mereka.”
“Kok mereka?”
“Ya mereka yang menikah itu.”
Meja 9
“Si Tennyson ini pasti bodoh atau sok tahu luar biasa.”
“Ada apa, Neng, mendadak sewot begitu? Teni… sopo, tho?”
“Alfred Lord Tennyson.”
“Bos baru di kantormu?”
“Bukan, dia ini… Begini deh, dia ini dulu sekali kira-kira pernah bilang kalau lebih baik pernah bercinta sekalipun akhirnya putus di tengah jalan ketimbang nggak pernah mencintai sama sekali. Apa tidak gemblung, Mbak?”
“Menurutku apik itu, orang jadi punya kenang-kenangan.”
“Ah mending tidak cinta-cintaan. Sakitnya itu betul-betul lho, Mbak. Hati, Mbak, hati.”
“Lho, lho, memang belum lupa tho sama yang kemarin? Kan sudah lama….”
“Ini deh, Mbak, baca.”
“Cilik-cilik hurufnya. Besarin dikit kenapa?”
“…nah, sudah baca sendiri kan. Aku tadi iseng baca di taksi waktu ke sini, dapat terusan dari teman kantor. Bayangkan, Roy C. Sullivan, si park ranger Amerika itu kesamber petir tujuh kali tidak mati-mati, paling lecet saja. Begitu ditolak cinta, langsung bunuh diri. Apa ini bukan lebih baik nggak usah demen-demenan?”
“Jadi si Teni… itu bodoh karena ada orang bunuh diri gara-gara hatinya remuk?”
“Seratus persen, tanpa diskon.”
“Ah, kalau aku kok ora cocok.”
Meja 4
“Lihat tuh mbak-mbak yang baru datang dan duduk di situ. Mantap, Bung.”
“Jangkrik! Matamu itu lho. Apa lupa pelajaran di sekolah? Tataplah orang pada matanya….”
“Kecuali susu mereka benar-benar bulat….”
“Jangkrik! Salah posisi aku.”
Meja 13
“Kalau lu nggak mau balik, gua….”
“Mau apa? Mau apa?”
Meja 7
“Kukira Mas tak pernah memintanya.”
“Jangan menangis ah, malu.”
“Biar.”
“Ternyata kamu yang telenovela.”
“Terserah. Tapi, kalau selama ini Mas Seta ragu-ragu, aku lebih lagi karena tak ada kepastian dari Mas.”
“Kau kan bisa melamarku lebih dahulu?”
“Apa?”
“Katanya progresif?”
“Katanya gentleman, melamarnya tadi kok pakai bentak-bentak?”
“Harusnya bagaimana?”
“Apa yang kaupelajari dari buku roman?”
“Sang laki-laki berlulut, merogoh kantong, dan mengeluarkan cincin.”
“Mengapa tak kaulakukan itu?”
“Tak ada cincin padaku saat ini.”
“Lupakan cincinnya, lakukan berlututnya.”
“Benar-benar telenovela.”
“Biar, ayo cepat.”
“Baik. Maukah kau Maura Wigati Sulaiman menjadi istriku?”
“Dengan satu syarat.”
“Sebutkan segera.”
“Kauhabiskan dua cangkir cappuccino ini.”
“Ternyata kau yang tiran, yang fasis.”
“Biar.”
Meja 13
“Tolong! Tolong!”
Meja kasir
“Oalah, goblok, goblok! Mau mampus kok di warung orang!” (*)
Yusi Avianto Pareanom, editor di Penerbit Banana.
KISAH TIGA AYAH YANG DITUDUH GILA
Cerpen Mashuri (Jawa Pos, 10 April 2011)


I
“YAH, aku sudah dewasa. Apa Ayah tak ingin mewariskan perusahaan garmen itu padaku?”
“Ayah belum mati.”
“Bukan itu maksudku, Ayah!”
“Terus?”
“Aku tak ingin ada kekacauan di keluarga.”
“Apa kau melihat ada yang tak beres dengan keluarga kita?”
“Tidak, sih!”
“Berarti kau yang kacau!”
“Aku rasional!”
“Aku tak akan menyerahkan perusahaan itu kepadamu. Kapan pun.”
“Apa Ayah sudah gila!?”
II
Di mataku, perempuan itu selalu bergaun ungu. Gaun terusan, dengan motif kembang-kembang putih di antara dada dan perut. Wajahnya selalu tampak ayu dan segar. Hidungnya bangir. Rambutnya sebahu dibiarkan terurai, tanpa digelung. Di hidungku, perempuan itu selalu beraroma wangi, bau seribu bunga.
Hingga kini aku selalu datang kepadanya dengan pandang sekelebat. Tak lebih. Persoalannya sederhana, aku pernah disapa dengan sapaan yang membuatku tergeragap karena aku pernah merasa telah lama akrab dengan panggilan itu, tapi tak pernah dengan mampu mengerti letak kekaribannya.
Kala itu, senja. Suasana jalan desa demikian lengang. Aku bermain di pagar tanaman yang tersusun dari berbagai jenis bunga. Ada kupu-kupu dan capung beterbangan. Aku mengejarnya dan terus mengejarnya. Sampailah aku di rumah yang selalu tampak sepi bila siang, dan selalu ramai bila malam. Rumah perempuan yang selalu bergaun ungu.
Ada dua bunga di pagar tanaman rumahnya. Satu bunga sepatu, lainnya bunga entah, aku tak tahu namanya. Yang jelas, beluntasnya memanjang menyerupai tembok dengan warna hijau rata. Di pekarangan, bunga-bunga tumbuh di taman. Sepertinya perempuan itu berselera menata tanaman: pagar hijau, juga rumah yang asri.
Dan… capung itu hinggap di antara daun-daun beluntas. Binatang bersayap bening itu diam tepekur, seakan-akan menanti senja pulih ke gelap. Aku pun melangkah pelan, pelan dan… clep. Aku menangkapnya dengan ibu jari tangan kanan dan jari telunjuk. Ah, alangkah manis capung itu. Masih kuingat benar. Warnanya keemasan, dengan beberapa bagian tubuh yang mengilap. Pukaunya membuatku tak menghiraukan kupu-kupu yang juga beterbangan di antara bunga yang aku tak tahu namanya. Beterbangan di antara kelopak-kelopak putih yang meruapkan bau sedap.
“Hai, anakku lelaki, perjakaku sendiri, kok masih mainan saja. Sudah candik ala, sudah senja!” Suara itu mengagetkanku. Ketika kucari asal suara, perempuan pemilik rumah dengan pakaian ungu sudah di ambang pintu. Bibirnya yang merah rekah mengulum senyum. Ah, kenapa dia menyapaku anakku lelaki perjakaku sendiri. Itu sapaan yang tak lazim untukku. Aku yakin ibuku pun dulu tak pernah menyapaku begitu. Tapi, aku merasa pernah mendengarnya dulu. Entah kapan, entah di mana.
Jika aku dalam kondisi demikian, kurasakan diriku mabuk.
Aku langsung pulang. Ada perasaan takut tak terkatakan yang mendadak mendekap dada. Setelah itu, aku tak pernah berani dekat-dekat rumahnya, meski rumah itu hanya berjarak tujuh rumah dari tempat tinggalku. Setiap kali aku melewati rumahnya, aku akan berlari kencang-kencang, tidak peduli siang dan malam. Ternyata perempuan bergaun ungu itu menjelma hantu bagiku. Hantu yang selalu ingin disingkiri, tetapi mengundang untuk dilihat dan diakrabi.
Aku sendiri tak tahu, sungguh.
***
Tak ada yang tahu namanya dengan pasti, tetapi yang jelas usianya sudah 12 tahun. Dia biasa disapa Joko. Dia lahir tepat pada peristiwa berdarah di kampung, 12 tahun lalu, bulan ketiga, ketika rembulan bersinar dengan sempurna. Ketika terjadi perang dengan kampung sebelah.
Sepanjang usia, dia tak punya teman karena dia seakan-akan tak butuh kawan. Dia selalu bermain sendiri. Kadangkala berbicara sendiri, baik terhadap bunga-bunga, tanaman di pinggir jalan, padi-padi di sawah, maupun terhadap capung-capung yang kerap dia tangkap lalu dia bebaskan dengan senyum terkulum.
“Aku bisa mendengar mereka bicara, menyapaku dan mengajakku bermain!” Joko akan berkata demikian kepada ayahnya, setiap kali ayahnya menyentak keasyikannya.
Sejak berusia lima tahun, dia sudah ditinggal ibunya ke alam baka. Kata orang-orang kampung, ibunya mati karena sakit perasaan. Ayahnya terlalu sering sambang ke rumah berpagar beluntas yang berjarak tujuh rumah dari rumahnya. Semua lelaki di kampung suka rumah itu. Ayahnya menyimpan sesuatu tentang rumah itu. Joko pun menyimpan sesuatu tentang rumah itu, antara rindu dan takut. Rumah yang tampak selalu berbau dupa, wangi, rumah yang selalu membuatnya betah hanya sekadar menatap pintu, tanaman-tanaman hias di taman, juga bunga sepatu yang selalu membuatnya tertarik untuk memetik.
Joko kerap memetik bunga sepatu merah, lalu diselipkannya di telinga. Dia akan berlari-lari di sepanjang jalan desa, seperti seorang yang sedang naik kuda. Bila bunga itu terjatuh, dia akan memungutnya, membersihkannya dari kotoran dan tanah, lalu memasangnya di telinga. Dia akan mengulang-ngulangnya, sampai bunga itu layu, kepala serbuk sarinya hilang, sedangkan kelopak-kelopaknya tak lagi genap.
Bila sudah sampai begitu, Joko berkata pada ayahnya, satu-satunya orang yang pernah dia ajak berbicara, satu-satunya orang yang suaranya kerap sampai di gendang telinganya. Dia selalu berkata, “Aku seperti mendengar bunyi terompet. Aku seperti di padang-padang gembala. Aku naik kuda, main perang-perangan, berhadapan dengan musuh, tapi aku tak pernah melihat musuh. Aku tidak memburu, tetapi juga diburu.”
Ayahnya diam. Ayahnya tahu, itu bukan kata-kata anaknya. Dia tahu, Joko telah pergi, tanpa dia tahu, ke mana raibnya. Dia hanya tahu jika Joko berkata dengan ungkapan melampaui usianya, anaknya itu telah terusir. Si ayah kadang menangis, tapi dia sadar: dia tak bisa menangisi takdir. Apalagi setiap senja datang dan dia menemukan anak tunggalnya itu terpaku, dia hanya bisa diam seperti batu.
Hampir setiap senja, Joko terpaku. Dia mendengar suara-suara lain, selain suara-suara tanaman, capung, belalang, juga binatang, juga ayahnya. Dia mendengar suara sapa, dari rumah yang dia bayangkan dalam kabut kedamaian. Rumah yang memesona, sekaligus rahasia. Dia mendengar sa pa yang teramat akrab, sekaligus jauh. Dia mendengar, tetapi tak ingin merekamnya. Dia ingin mengusir pendengaran yang telah merusak heningnya, merusak gendang telinganya dengan suara-suara baru, atau suara lama yang baru terangkat dari endapan jiwanya.
“Anakku lelaki, perjakaku sendiri!”
***
Aku tak pernah bermimpi, tapi semalam aku bermimpi.
Aku menetek di susu perempuan bergaun ungu, dia lalu kupanggil ibu dengan sepenuh kalbu. Tubuhku lalu membesar, sebesar ayah. Tetapi tetap tidur bersama perempuan itu. Aku selalu berada di sampingnya bila malam tiba, bila hujan menitipkan dingin ke kulit dan cuaca, bila alam terasa demikian sepi. Aku selalu tidur bersamanya. Ketika aku lelah dari padang gembala kuda-kuda, aku lalu menghampirinya. Ketika aku tersaruk di medan-medan laga, aku kembali ke pangkuannya. Dalam sebuah pertempuran penghabisan, aku terluka, sekarat dan hampir mati, dia datang, memanggil namaku, lalu menyiramkan air ke kepalaku. Aku bangkit kembali. Aku menjelma seorang kesatria, menunggang kuda, menggenggam pedang, dan selalu menang perang.
Tapi, ketika aku bercerita pada ayah, tentang mimpi bertemu dengan perempuan menakutkan itu, dia hanya termangu.
Ayah lalu bertanya, “Kenapa kau usir anakku, ke mana kau ungsikan dia?”
Aku diam seribu bahasa. Aku merasa ayahku sudah gila.
III
Pohon trembesi itu tegar di kaki bukit. Dahannya bagai lengan raksasa dengan jumlah beratus-ratus menaungi semak di bawahnya. Jika musim panas dan matahari tepat di atas kepala, orang-orang berteduh di bawahnya. Angin akan mengusir rasa gerah, dan panas menjelma kesejukan yang merayap ke pori-pori kulit. Kedamaian terjelma lewat tiupan angin.
Hampir semua warga kampung merasakan hal itu, terlebih Sukmo. Dia seperti memiliki ikatan khusus dengan pohon itu. Ayahnya telah menanam ari-arinya di sana. Sejak balita, dia sering ditimang-timang ibundanya di bawah pohon; sambil mendendangkan tembang pelipur lara, nyanyian penidur ananda; lewat sepoi angin, Sukmo kecil merasa disirep, dia pun lelap dalam buaian.
Siang itu Sukmo mengajak anak sulungnya, Rai, ke bawah trembesi. Mereka baru saja dari ladang, tepat di lereng bukit. Kerut sudah tampak di wajahnya. Langkahnya menunjukkan hidupnya yang sudah dimakan usia. Diseretnya cangkul dengan tangan kasarnya dan disandarkannya tubuhnya ke pohon yang berusia ratusan tahun itu. Ada perasaan damai, sekaligus gundah di hatinya. Dibiarkannya Rai menangkap belalang, lalu dikunyahnya dan ditelan. Anak ini sudah semakin besar, tetapi perangainya masih seperti anak kecil. Dia masih suka bermain-main, tidak stabil dan tidak bisa diajak bertukar pikiran. Tetapi saat ini, Sukmo tidak sedang berpikir seperti itu. Dia sedang dilanda kegelisahan.
“Kenapa ayah menangis?”
Sukmo terhenyak mendengar sapaan Rai. Dia merasa aneh dan asing dengan sapaan itu. Ini bukan tabiat Rai, tetapi dia buru-buru mengusap air matanya. Dia lalu tersenyum, ketika melihat mimik anaknya tegang. Dia tak ingin anaknya itu merasa yang hadir di hadapannya bukan sang ayah tak dikenalnya selama ini, tetapi sosok lain, yang semakin rapuh. Sukmo ingin tegar di hadapan Rai.
“Saya tahu bagaimana ayah melihatku. Tetapi, tidak baik jika ayah sampai menangis. Aku tidak ingin adik-adik melihat Ayah menitikkan air mata. Cukup aku saja,” tandas Rai.
Sukmo seperti berada di sebuah wilayah yang dia sendiri ingin berpaling; dia merasa antara perasaan lega dan terjepit. Meski hati kecilnya tetap melihat Rai sebagaimana biasanya, dalam satu detik itu, dia ingin memperlakukan Rai sebagai seorang anak tertuanya, dan memang seharusnya bersikap dewasa. Dia pun membeber rahasianya.
“Aku melihat kematianku, Nak. Karena kau sulung, kuingin membuka rahasia ini kepadamu. Semalam aku bermimpi melihat batu nisanku berada di bawah pohon ini. Berarti kematianku semakin dekat,” kata Sukmo. “Karena itu, aku ingin kita pindah dari kampung ini, karena adik-adikmu masih membutuhkan aku. Kukira pendapatku ini baik. Oleh karena itu, mulai besok kita semua pindah.”
Rai kembali sibuk sendiri. Dia mempermainkan rumput di telapaknya. Sukmo merasa perih melihat perangai Rai yang kembali. Dia telanjur membuka diri pada Rai bahwa dia memiliki rahasia, tetapi Rai kembali hilang. Sukmo memang sering mendapati anaknya demikian. Anaknya memiliki dunia sendiri yang sukar diukur, bahkan oleh Sukmo sekalipun.
Karena hanya angin yang terdengar, Sukmo mengajak Rai turun. Mereka lalu berkemas dan pindah ke kampung lain. Adik-adiknya yang berjumlah empat juga mengikutinya. Ada juga 11 keluarga yang selama ini pengikut Sukmo, turut mengikuti langkah keluarga Sukmo.
***
Angin malam yang dingin menampar pipi Rai. Diraihnya kentongan dan dibunyikannya bertalu-talu. Dalam sekejap saja, balai-balai yang diterangi dengan cahaya obor itu dipenuhi orang, laki dan perempuan. Semuanya menggenggam senjata.
“Malam ini, kita semua berjaga. Kampung kita sedang menghadapi bahaya. Kampung sebelah ingin menyerang kita,” Sukmo berkata lantang. Di pinggangnya tampak sebilah parang.
Di kampung baru Sukmo didaulat sebagai kepala kampung. Selain masalah karisma dan memiliki pengikut dari kampung asal, banyak warga kampung baru melihat Sukmo sebagai seorang lelaki yang tegar; tanpa seorang istri, dia mampu mengatur ke-5 anaknya, yang semuanya laki-laki.
Hadirin menyerukan sebuah sorakan: tanda siap berjuang. Mereka lalu dibagi. Perempuan tetap di rumah menjaga anak-anaknya, dengan tetap menggenggam pisau atau senjata apa adanya. Sedangkan yang laki-laki di luar rumah, siap dengan senjata terhunus.
“Siapa yang menjaga adik-adik, Ayah?” tanya Rai, di sela-sela kesibukan Sukmo membagi warga kampungnya.
“Kamu, Rai. Lindungi adik-adikmu. Apa pun yang terjadi, kamu harus dekat dengan adik-adikmu,” tegas Sukmo.
“Aku laki-laki ayah, aku harus ikut berperang,” tutur Rai.
“Tidak!”
“Aku harus melindungi Ayah. Kalau ayah terluka dan mati?”
Sukmo kembali tercenung. Dia merasa di sebuah wilayah seperti berada di bawah pohon trembesi beberapa waktu lalu dan merasa Rai cukup dewasa. Tetapi kondisi itu tak lama.
“Kamu tetap di rumah. Aku akan tetap hidup, aku tidak bisa mati di kampung ini. Aku harus tetap hidup untuk kalian!”
Rai diam. Dia masuk rumah, kembali asyik dengan empat saudaranya. Biasanya, bila bulan purnama seperti sekarang, dia akan bermain di halaman. Tetapi, kini dia main petak umpet di rumah.
Dini hari, perang berkecamuk dahsyat. Sukmo terkoyak dadanya. Meski darah berceceran membasahi bumi, Sukmo tidak kunjung mati.
***
“Bawa aku ke pohon trembesi!”
“Kenapa, Ayah?”
“Aku tersiksa. Aku ingin mati. Aku hanya bisa mati di sana!”
“Ingin mati? Apa Ayah sudah gila?” (*)
Surabaya-Jogjakarta, 2011
Jumat, 25 Maret 2011
kETIKA MAS GAGAH PERGI
Oleh : Helvi Tyana Rosa
Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.
Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.
Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.
"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"
"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"
"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"
Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?
"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.
Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!
Itulah Mas Gagah!
Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…
"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!
"Assalaamu’alaikum!"seruku.
Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.
"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.
"Matiin kasetnya!"kataku sewot.
"Lho memangnya kenapa?"
"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.
"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"
"Bodo!"
"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."
"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"
"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"
"Pokoknya kedengaran!"
"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"
"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.
Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"
"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.
Oala.
Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.
Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"
Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!
Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.
"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"
"Lain gimana Ma?"
"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"
Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."
Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."
Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.
Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"
"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"
"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"
Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"
Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"
Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."
Mas Gagah tersenyum.
"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.
"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"
Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.
Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.
"Mau kemana Gita?"
"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."
"Ikut Mas aja yuk!"
"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"
Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.
"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.
"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.
Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."
Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!
"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.
"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.
"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."
Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.
"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."
Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.
"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.
"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"
Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.
"Mbak Ana?"
"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.
"Hidayah."
"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"
"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.
‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.
"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…
"Cuma lagi baca!"
"Buku apa?"
"Tumben kamu pingin tahu?"
"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.
"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.
"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.
"Maaas…"
"Apa Dik Manis?"
"Gita akhwat bukan sih?"
"Memangnya kenapa?"
"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.
Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.
Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.
"Mas kok nangis?"
"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."
Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…
"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.
"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.
"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"
"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.
Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.
Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.
"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"
Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.
Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.
Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."
Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.
"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.
"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.
"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.
"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.
"Lho! " Mas Gagah bengong.
Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"
Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.
Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.
Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.
Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.
"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.
"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.
"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.
"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"
"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "
"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.
Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.
"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.
Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.
"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.
Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.
"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.
Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.
"Kriiiinggg!" telpon berdering.
Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"
"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.
"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.
"Mas Gagaaaaahhhh
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.
Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.
" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.
Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."
Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.
"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.
Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.
"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.
Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."
Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."
"Gita…" suaraku serak menahan tangis.
Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.
"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.
Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."
Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.
"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.
"Gi..ta…"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.
"Gita di sini, Mas…"
Perlahan kelopak matanya terbuka.
"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.
"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.
Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.
Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.
Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.
"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.
Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.
Epilog:
Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.
Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.
Setitik air mataku jatuh lagi.
"Mas, Gita akhwat bukan sih?"
"Ya, insya Allah akhwat!"
"Yang bener?"
"Iya, dik manis!"
"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"
"Kok nanya gitu sih?"
"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"
"Ganteng kan?"
"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"
"Ya always dong, jihad itu…"
Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!
Sabtu, 25 Desember 2010
CERPEN : SEPENGGAL EPISODE HIDUP DAN MATI PENJUAL OBAT
SEPENGGAL EPISODE HIDUP DAN MATI PENJUAL OBAT
Oleh : Abdillah Putra Siregar
Dimuat pada harian Medan Bisnis (05122010)
Perkenalkan, namaku Chandra. Berdarah India. Tapi jangan kau kira aku seperti artis-aktor Bollywood. Aku justru lebih mirip orang Negro. Hidungku mancung. Rambutku ikal. Kulitku yang hitam semakin gelap tertimpa cahaya matahari saban hari. Aku bekerja sebagai penjual obat keliling. Orang-orang menyebutku sebagai tukang koyok. Obat apa saja ada padaku. Para dewasa selalu menanyakan satu jenis obat. Bahkan pernah seorang remaja tanggung menanyakan obat yang selalu ditanyakan oleh para orang tua itu.
Dalam menjual segala jenis obat, aku berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Bertandang dari satu rumah ke rumah lainnya. Biasanya para penderita sakit menahun adalah korban rayuanku. Dengan kemampuan bicara yang sedikit kudramatisir sedramatis mungkin. Aku bisa meyakinkan mereka dengan rayuan omong kosong yang kusemburkan. Seperti bisa ular yang menyebar dan melumpuhkan syaraf mangsanya.
“Dijamin, Pak, dalam dua puluh hari istri bapak akan sembuh!”
Begitulah jurus pamungkas yang selalu aku dengungkan. Tentu saja mereka percaya. Aku bisa melihat itu dari sorot mata mereka yang berbinar penuh harap. Kadang aku tak tega juga. Perasaan bersalah kerap kali bersarang di kepalaku. Tapi apa boleh buat? Inilah profesiku. Ladang usahaku, keahlianku untuk mencari makan buat anak-anak dan istriku tersayang. Biar saja orang-orang menggatakanku pembual kelas kakap, lagi pula zaman sekarang mencari kerja itu susahnya minta ampun. Pun aku hanya tamatan SD.
Keahlian apa yang kumiliki selain mengibul? Anak , istriku butuh makan, biaya sekolah, butuh kebutuhan lainnya. Kalau kata sebagian orang, mencari yang halal saja susah apalagi yang haram.
***
“Bang, apa kau tak mau mencari pekerjaan lain? Apa kau akan terus menerus menyumpal perut anak-anakmu dengan makanan yang haram?” istriku sibuk merepet tak karuan.
Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan.
“Aku takut dosa, Bang!” tegasnya.
Dosa? Kata itu sering melintas di pikiranku. Tapi aku tak takut. Biasa saja!
“Kalau kau tetap menafkahi kami dengan yang haram, lebih baik kita cerai saja. Aku mau cari suami baru yang lebih bertanggung jawab, aku nggak sanggup mendengar omongan tetangga tentang kau!” tukasnya lagi dengan nada serius.
Aku ingin tertawa, tapi kutahan. Sejak kapan aku peduli omongan orang tentangku? Sejak kapan pula aku mulai memikirkan kata-kata istri brengsek ini? Minta cerai pula ia, ada-ada saja! Mati-matian dulu aku mendapatkanmu. Kini, haruskah dilepas begitu saja? Jangan harap. Dasar matre!
“Lihat anak-anak kita, susah diatur, pembangkang dan suka berkelahi dengan kawan-kawannya!”
Pembangkang? Itukan salahmu. Berarti kau yang tak becus mengurus anak-anakmu. Tugasku hanya mencari nafkah.
“Inilah buah hasil dari jerih payahmu,menyumpal anak-anak kita dengan makanan haram!”
Alamak! Sekarang kau malah menyalahkan aku. Apa kau tidak tahu saban hari aku memikirkan bagaimana agar kalian bisa hidup nyaman dan makan enak?
“Bang, kenapa kau diam saja?”
Diam! Tidak? Aku berbicara dalam hatiku.
“Kita bercerai baik-baik atau aku minggat dari rumah ini?” ia memberiku pilihan yang sulit.
Jangan harap aku akan menceraikanmu.
Aku sering tertegun sendiri. Jujur , aku pun ingin menyudahi semua ini. Tapi, lagi-lagi aku dihadapkan pada pilihan yang sulit. Anak dan istriku makan apa bila aku berhenti menjual obat-obatan palsu ini? Lagi pula orang-orang yang kutipu tak pernah protes. Bahkan sampai detik ini, aku merasa aman dan baik-baik saja. Ah, yang penting aku bekerja.
***
“Selamat siang, Dek. Benar ini rumahnya Pak Bullah?” sapaku sesopan dan selembut mungkin pada seorang remaja tanggung. Aku nekad menyambangi rumah ini. Kulihat di beranda rumahnya ada kursi roda. Aku yakin sekali ada keluarganya yang sakit. Lalu, ide muslihatku keluar. Aku pura-pura bertanya pada tetangganya. Mencari tahu siapa yang sakit dalam rumah itu. Lantas, berlakon layaknya para sakti mandaraguna, seolah-olah tahu apa yang tengah terjadi.
“Ya, benar! Ada apa ya?”tanyanya balik.
“O, perkenalkan, saya Chandra, saudara jauh ayahmu” ujarku memperkenalkan diri.
“Saudara? Kok saya belum pernah ketemu?” tanyanya penuh tatapan curiga.
“Ya, aku anak dari temannya ayahmu. Lama ayahmu tak berkunjung ke rumah kami, lalu aku dapatkan kabar kalau ayahmu sedang sakit” aku berusaha meyakinkan.
“O, silahkan masuk!”
Aha, umpan pertamaku berhasil.
“Ayah terbaring di kamar. Tidak bisa bicara dan berjalan. Tubuh sebelah kanannya lumpuh. Stroke!” jelas anak itu.
“Kau sendirian?”
“Mamak saya kerja, sore nanti baru pulang. Kakak saya di Malaysia” jelasnya lagi.
“O, boleh aku melihat ayahmu?”
Remaja tanggung itu mengantarku ke kamar ayahnya. Disana kutemukan seonggok tubuh terbaring lemah. Tubuhnya kurus. Wajahnya tirus. Matanya cekung sekali! Ah, ada sedikit perasaan iba menyelinap dalam diriku. Tapi sudah dua hari ini tak sepeser uangpun kudapat.
“Ayah, ini ada anak teman ayah ingin menjenguk keadaan ayah”
Aku mengambil posisi. Duduk di sampingnya.
“Pak, ini saya, Chandra!” aku pura-pura mengenalnya.
“Saya kemari disuruh bapak, untuk mengantarkan obat, mudah-mudahan bapak cepat sembuh”
Lelaki paro baya tersebut hanya memandangiku. Matanya nyalang menatap penuh curiga.
“Oya, dek. Saya kemari bawa obat buat ayahmu. Ramuan yang dapat menyembuhkan dalam waktu yang sangat cepat, hanya dua puluh hari, saya berani jamin, ayahmu akan dapat berjalan dan berbicara kembali!” aku memulai aksi.
Aku menggeluarkan dua botol kecil berisi daun-daun kering dari tas hitamku yang selalu kubawa. Untuk lebih meyakinkanku, kuminta anak itu menyodorkan tanganya.
“Ini minyak dari India, hapuskan pada tubuh ayahmu yang kaku!”
Remaja tanggung ini percaya. Ia mengusapkan minyak tersebut pada kaki dan lengan ayahnya. Tinggal selangkah lagi, usahaku akan berhasil.
“Nanti, kau minumkan ramuan ini pada ayahmu setiap malam. Caranya sedu dengan air hangat!” jelasku lagi.
“Maaf, Pak. Begini saja, nanti sore bapak datang lagi. Bicara dengan mamak saya, sekarang ini saya tidak bisa memutuskan apa-apa” tiba-tiba ia berkilah.
“Adek nggak mau, ayah sembuh? Nanti sore saya ada keperluan lain, saya nggak jamin bisa kemari lagi, karena besok pagi saya harus pulang ke Jawa” aku coba menggertaknya.
“Saya mengerti. Inilah yang kami harapkan, ayah bisa sembuh. Apa obat ini gratis?” tanyanya polos
Aku tersenyum.
“Ya sudah, kau ambil saja obat ini, saya jauh-jauh membelinya dari India khusus buat ayahmu. Karena kita bersaudara, saya hanya minta maharnya tujuh puluh lima ribu saja!” aku langsung saja pada inti transaksi ini.
“Tapi, saya tidak punya uang segitu, uang saya hanya ada dua puluh ribu”
Sial! Aku seperti salah sasaran.
“Ya sudah, kalian sudah kuanggap saudaraku sendiri, ambillah obat ini!”
Anak tersebut merogoh kantungnya. Ia berikan dua lembar uang sepuluh ribu.
“Tadi, bapak bilang obat ini sengaja dibawa untuk ayah tapi kok jadi bayar sih?”
Brengsek! Anak ini mulai mencurigaiku. Aku masih harus memainkan peranku. Aku memasang senyum terindah yang aku punya.
“Sebenarnya obat ini adalah pesanan orang yang juga terserang stroke. Tapi ketika saya mendengar ayahmu sakit, maka obat ini ingin saya berikan pada ayahmu dulu. Jadi anggap sajalah, uang yang kau berikan sebagai ongkos mengantar obat ini” kilahku lagi.
Ia mangut-mangut saja. Kulihat di raut wajahnya masih ada sebersit ragu.
“kalau begitu saya permisi dulu. Sampaikan salam saya pada mamakmu. Pak, saya permisi dulu, semoga cepat sembuh! Pamitku pada keduanya.
“Oya, jangan lupa minumkan obat itu tiap malam selama dua puluh hari! Dan ini saya berikan bonus, minyak urut” sodorku padanya.
“Terima kasih, Pak” Ia tersenyum di dagu pintu.
***
Aku menggipaskan wajahku yang dirembesi peluh dengan potongan kardus kecil. Belakangan, penghasilanku menurun drastis. Banyak masyarakat yang mulai tak percaya dengan omong kosongku. Penjual koyok. Sudah kubilang, aku tak punya cara lain selain menjadi penjual obat palsu.
Panas begitu merambat di kepalaku. Keringat mengalir susul menyusul. Jam sudah pukul tiga sore. Aku menyekah peluh dan bulir keringat di wajah. Duduk di halte sendiri. Entah mengapa, tubuhku letih sekali. Aku ingin pulang secepatnya. Merebahkan diri. Meski tebusannya, aku harus rela mendengar omelan istriku. Tak lama bus yang ingin kutumpangi datang. Aku melesat masuk. Duduk di kursi belakang. Mataku mulai ketar-ketir menahan kantuk. Dalam kejab aku tertidur lelap.
***
“Tas, tas saya mana?” tanyaku pada kernet.
“Manalah aku tahu dimana tas abang” ujarnya dengan logat batak yang tajam.
Aku sibuk menjelajah sekitarku. Kolong kursi, depan , belakang. Nihil! Kulihat bus ini penuh sesak penumpang. Aku tak tahu dimana tasku berada. Firasatku mengatakan kalau tas ini pasti dicuri.
“Sial! Tasku dicuri” ceracauku sendiri.
Padahal di dalamnya kuselipkan uang simpananku. Memang, jumlahnya tak banyak bagi orang-orang yang berduit. Tapi bagi kami, orang-orang kecil. Jumlah itu tak sedikit. Aku turun pada perempatan lampu merah. Langkahku kian gontai tak karuan. Penampilanku lusuh sekali. Tubuhku lemas sekali. Kepalaku pusing tak karuan. Di tengah jalan aku merasakan. Semacam ada yang mendorong kuat tubuhku. aku sempat merasakan melayang. Masih sempat pula kuceracau kata makian.
“Pencuri sial!”
***
Aku pulang dengan tubuh gontai. Limbung hampir tubuhku. Seharian ini belum sesuap nasipun singgah di perutku. Aku seperti orang tenggen yang habis meneguk berpuluh gelas minuman keras. Baru kali ini aku mengasihani diriku sendiri. Aku masih tak tahu harus bilang apa pada istriku nanti. Pikiranku juga sibuk membayangkan anak-anakku yang akan kelaparan. Belum lagi kontarakan rumah yang sudah menunggak lima bulan. Rasanya ingin aku berlari dari ini semua. Rasanya aku ingin mati saja. Tapi senyum, kerlingan mata, celoteh bungsuku, anak-anakku adalah penyemangat hidupku yang kian terpuruk. Aku merasa menjadi bapak yang gagal. Aku tak mampu memenuhi harapan dan keinginan mereka. Tuhan, salahkah pekerjaan yang selama ini kulakukan?
Aku sadar sudah begitu banyak orang-orang yang kutipu. Aku tak ubahnya sama dengan para koruptor negeri ini. Penjual janji palsu demi menguntungkan diri sendiri. Oh, mungkin inilah balasannya. Tasku hilang beserta uang yang selama setahun ini kutabung. Padahal uang itu akan aku gunakan untuk melunasi semua hutang-hutang. Kini kandas. Aku harus siap menerima caci maki istriku. Kali ini aku pasrah jika ia memintaku untuk menceraikannya. Aku akan turuti kemauan perempuan yang telah memberiku tiga orang putra ini. Biarlah ia menemukan jalan hidupnya sendiri. Biarlah anak-anakku ikut bersamanya. Semoga ia menemukan jalan hidup yang baik. Dan aku. Mungkin akan bunuh diri saja. Aku sudah begitu bosan dengan hidup.
Aih, sial! Aku kelelawar yang takut pada siang.Aku tak boleh begini. Lama aku bermonolog pada diriku sendiri. Aku ini seorang ayah. Aku pemimpin keluarga. Jika aku lemah, maka pada siapa lagi istri dan anakku akan berlindung? Baiklah, aku akan memulai semuanya dari awal lagi.
Dengan penuh semangat aku memantabkan langkah. Kali ini meski omelan istriku akan melabuh hebat di telinga. Aku tak peduli. Malah aku akan memeluknya dengan segenap cinta.
Dalam kurun waktu yang tak lama. Hanya lima menit saja. Sebentar lagi aku akan sampai rumah. Kurapikan pakaianku. Kuseka peluh dan keringat di wajah. Kusisir rambutku.
Tak lama. Persimpangan rumah telah tampak. Tapi, tunggu! Mengapa ada bendera merah disitu. Mengapa banyak orang berpeci dan berkerudung. Apa ada yang meninggal? Firasatku mulai tak enak. Kupercepat langkahku. Setengah berlari. Aku semakin dekat dengan tempat yang dikerubungi para pelayat. Astaga! Itukan rumahku. Siapa yang meninggal? Aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Aku membayangkan istriku menenggak racun atau anakku ditabrak lari.
Oh, tidak! Aku tak mau ini semua terjadi. Dengan cepat aku berlari. Aku masuk rumah. Orang-orang ramai di luar dan di dalam. Sebujur mayat di ruang tamu. Itu bukan istriku atau anak-anakku. Jadi, mayat siapa? Aku medekat pada istriku. Aku peluk ia dengan segenap jiwa.
“Abang, tega sekali kau meninggalkan kami!” ujarnya menangis haru pada sebujur tubuh itu.
Aku tergeragap. Mayat itu mirip aku. Aku menjauh. Kusandarkan tubuhku pada dinding.
Aku tak percaya dengan apa yang terjadi. Istriku banjir air mata di pipinya. Anak-anakku menggiba. Ada apa sebenarnya? Mengapa orang-orang mengabaikanku? Istriku, mengapa pula ia mengira aku telah mati. Mayat itu, apakah ia kembaranku? Ah, terlalu banyak teka teki yang tak kumenggerti. Rumit sekali masalah ini. Kumohon bicaralah padaku. Beritahu aku kebenaranya. Siapa mayat yang wajahnya mirip sekali denganku itu? Ya Tuhan, mohon beri aku petunjukmu! Beribu tanya mendesak di kepalaku. Jika aku telah mati. Kapan matinya? Aku merasa baik-baik saja. Tak ada yang kurang dari diriku. Aku masih sibuk mencari tahu hal ini. Kutanya pada setiap orang yang kutemui. Semuanya. Apa aku telah mati?
Tak lama, jasad itu dibawa untuk dimandikan. Aku ikuti. kekagetanku semakin menjadi-jadi. Kulihat kepalanya bocor. Matanya sedikit membelalak. Di hidung dan telinganya masih ada darah. Darah kental. Ih, menjijikan sekali! Bau amis pula. Mayat siapakah gerangan? Mengapa wajahnya mirip aku?
Aku kembali menemui istriku yang mengisak. Sesekali ia berpelukkan dengan para pelayat. Tangisnya mengiris hati. Belum lagi anak-anakku. Kupandangi wajah mereka satu persatu. Aku coba mendekap. Namun aku seperti asap. Tidak! Tidak mungkin. Pasti aku bermimpi panjang. Kumohon bangunkan aku! Ketakutan mulai menjalar. Perlahan aku mulai mencoba mengingat kejadian seharian ini. Kecopetan, turun di perempatan jalan, suara-suara yang memekik, aku yang terpelanting dan terbang, suara mobil mendecit. Astaga! Aku mati ditabrak rupanya. Tragis sekali nasibku!
Seketika air mataku tumpah. Baru saja aku akan memulai semuanya dari awal. Baru saja aku ingin belajar untuk tidak membual. Kini aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku selama ini kepada Tuhan.
Medan, Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)