DISINI HUJAN DERAS SEKALI ( MENEMBUS BATAS HIKMAH)
Abdillah Putra
Mendung menggantung di langit. Pekat sekali. Matahari disembunyikan awan hitam yang berarak. Padahal baru sekitar lima belas menit lalu ia bersinar garang.
Petir mulai saling silang. Angin dingin menggoda ranting. Sesekali terdengar derit nya. Tak lama hujan mengguyur, deras, semakin deras dan akhirnya deras sekali. Jarum-jarum air seolah tumpah ruah dari langit. Saling tindih, timpa menimpa memukul habis tanah berdebu kota Medan.
Dalam kejab koridor pertokoan sudah berubah jadi pelabuhan pejalan kaki dan pengendara motor. Termasuk aku. Aku menegadah sejenak. Kulihat langit mulai panik. Awan-awan kegelapan mencengkram bumi Medan dan belahan bumi Allah lainnya. Air semakin tumpah ruah bersamaan dengan deru angin yang kencang berhembus. Aku memeluk tubuh. Dingin sekali! Sebab sebagian pakaianku basah terciprat serpihan air hujan.
Semua diam. Menatap sejurus pada hujan. Langkah-langkah tergesa orang –orang yang baru turun dari angkot disambut gegap gempita oleh anak-anak pengojek payung.
“Payung,bu!”
“Payung pak!”
Tawaran ini langsung disambut gegap gempita para pengguna jasa. Semua seolah takut kena hujan. Mereka bergegas meneduh di koridor pertokoan.
Para pengojek payung itu rata-rata anak-anak putus sekolah. Mereka bertarung dengan nasib di bawah hujan yang mengguyur. Meski kuyup, meraka tetap mengais rezeki. Menurutku, meraka siap mencuri start dan peluang demi mempertahankan hidup. Lantas, aku melempar pandanganku pada perempatan jalan lampu merah. Tanpa sengaja retinaku jatuh pada pemandangan ganjil yang tak biasa.
Seorang bocah dengan baju yang begitu kuyup diam memayungi seorang wanita paruh baya. Anehnya, disaat para teman-temanya sibuk menawarkan jasa ia malah diam tak peduli. Bahkan ketika ada seorang ibu yang memerlukan payung dan memanggilnya. Ia tak bergeming. Hanya menggeleng saja. Heran! Bocah itu begitu setia memayungi wanita tua disampingnya. Mungkin wanita itu ibunya, begitulah pikiranku.
Tak lama,setengah jam berlalu. Hujan berhenti. Mataku tak lepas dari anak itu. Aku melangkah pelan. Menyebrangi jalan. Rinai gerimis masih deras. Kubiarkan bulirannya membasah kepalaku. Tak ayal , aku penasaran. Kudekati anak dan wanita yang duduk di persimpangan jalan itu.
“ini ibumu?”tanyaku.
Ia menggeleng. Sesaat mata kami bersirobok. Lalu ia berlari meninggalkanku dan wanita tua itu begitu saja Kualihkan pandanganku kearah wanita tua disampingnya tadi. Astaghfirullah! Saat itu aku tahu, wanita paruh baya itu ternyata tak mempunyai kedua kaki. Lalu rasa iba itu mengalir begitu saja. Mataku –matanya saling bersitatap. Sungguh! Rasa haru meruap begitu saja dalam diriku.
****
Masih di persimpangan jalan. Aku tercenung sendirian. Ya Allah, betapa aku merasakan sesuatu yang luar biasa hari ini, aku seperti menemukan segepok berlian di jalanan. Meski anak itu tak berkata apa-apa. Tapi dari matanya aku bisa membaca. Betapa ketulusan itu masih ada. Betapa semangat pengorbanan itu belum habis tergerus keterbatasan. Aku ingin menangis. Tapi kupikir ini bukan kisah untuk ditangisi. Aku semakin bangga, negeri ini masih bias diselamatkan jika saja semua orang mau berbagi dengan apa saja yang mereka miliki. Semoga !
Medan, saat hujan mengguyur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar