Senin, 29 November 2010

Dari Sahabatku (Semoga Allah Mencurahkan RahmatNya Padamu Sampai Kakimu Menginjak SurgaNya)

Tulisan singkat ini saya posting kembali sebagai ucapan tulus rasa terima kasih saya buat seorang Dani Sukma. Sahabat yang saya temukan disini, di ruang maya ini. Lalu pada suatu waktu kami dipertemukan. Itulah pertama kali aku bertemu sosok yang rendah hati dan mudah tersenyum ini. Jujur saja, diam-diam aku bangga bisa bersalaman dengannya. Sungguh saudaraku, aku tak mampu membalas apapun yang telah kau berikan. Anggaplah aku saudaramu selalu dan selamanya. Uhibbukum fillah, billah, lillah..selamat membaca catatan  hatinya.

INI TENTANG SEORANG ABDI

by Dani Sukma Agus Setiawan
Ini tentang seorang; Abdillah Putra Siregar, sahabat saya yang mewakafkan dirinya untuk memuliakan diri lewat tulisan. Tak ada yang bisa kuceritakan darinya selain jalan hidupnya yang memilih menjadi seorang penulis! Mungkin kau akan berkata, siapa itu Abdillah Putra Siregar, apa hebatnya dia bukankah masih ada Andrea Hirata, Habibburahman El Shirezy, atau Win RG? Mungkin benar dia tidak sehebat para pakar sastra, tetapi dia hebat di mataku; Sebab dia adalah sahabatku... sahabat yang tahu kapan saat harus membiarkanku menangis dan kapan saat mengakhiri tangisanku dengan sebuah senyuman!

Jangan tanya berapa banyak karya yang telah dia tuliskan, sebab bagiku "Kemuliaan Hidup Seorang Penulis Tidak Hanya Dilihat Dari Berapa Banyak Karya Yang Telah Dituliskan, Tetapi Juga Dilihat Seberapa Besar Pengaruh Dari Karya Yang Dituliskannya!" dan aku terpengaruh! Saat kubuka facebook-nya, aku terhipnotis oleh kata-katanya:

"menulis adalah jalan hidupku, seperti air, seperti udara, seperti itu pulalah pentingnya menulis dalam hidupku.

HIDUP ITU DIPILIH BUKAN MEMILIH

HAMPIR SETIAP HARI, AKU MENGHAYAL MENJADI ENTAH SIAPA, LALU DALAM JENAK AKU MENULIS, MENULIS APA SAJA"

Inilah hebatnya Abdi, sahabatku! Sederhana dalam bertutur, namun maknanya sulit untuk diukur! Sungguh, aku ingin menjelma air agar dapat diteguknya, menjelma udara agar dapat dihirupnya, agar aku bisa mendiami suatu ruang tunggu dalam jiwanya; Jiwa yang teduh meramu kata-kata, mengejar dzikir risalah sastra!

Jujur saja, itu baru dari beranda facebook-nya, lalu saat kubaca gemulai kata-kata dalam cerita pendeknya, sepertinya aku menyelami lautan makna tanpa batas, semakin kulayari gelombang kata-katanya semakin besar badai kecamuk kagum yang menghempas dalam dada, hingga aku tenggelam dan karam dalam dikedalaman air mataku sendiri. Katanya-katanya membuatku terharu, aku memang lelaki yang sentimentil, terlalu perasa dan ketika kubaca karyanya, aku tak kuasa membendung air mata di kantung mataku pada akhirnya mengalirlah tangis. Tidak cukup sampai di situ, setelah aku menangis, tiba-tiba aku tertawa... tertawa bahagia, sebab karena karyanya aku menemukan bahagia yang kusebut; Senyum imajinasi!

Terimakasih sahabatku, kini aku dapat tersenyum. Aku tersenyum sebab lewat karyamu aku bisa meranumkan imajinasiku untuk ikut menyelami makna kemuliaan menulis. Aku juga akan menulis, tetapi maaf bila aku punya mimpi; Aku akan melebihimu! Sebab jika aku tidak berhasil, maka dirimu kukatakan gagal. Sebab hakikatnya, seorang guru yang baik adalah yang mampu menjadikan muridnya melebihi dirinya, dan kau adalah salah satu guruku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar