Sajak Cinta
“Andaikan kau datang kembali,jawaban apa yang akan kuberi”
Kau menyebut cinta; jika hatimu berbunga-bunga menyebut namanya. Berdesir-desir hati,jika ia menatap lekat dua bola matamu,berdegup kencang jantungmu,jika ia mengucap kata indah.
Begitulah. Pun dengannya. Lelaki yang katanya tak mau jatuh cinta. Meski harus juga terkapar tak berdaya ketika matanya bersitatap tanpa sengaja dengan seorang bidadari yang ia kira sengaja Allah turunkan untuknya. Ya, hanya untuknya. Begitu yakinnya ia? Sombong ,bukan?
Begitulah, pun sama denganya. Ia berkenalan , tapi tak meminta nomer ponsel. Hanya menanyakan, hendak sholat ke mana kita Ashar ini? Ah, romantis kedengarannya. Seorang lelaki menanjak dewasa menanya perempuan berkerudung lebar. Sesekali mereka tergelak. Ah, agaknya keduanya terhasut fitnah setan.
Lelaki itu bermata sendu. Perempuan itu berwajah pualam. Lembut dan eksotis. Wajahnya penuh pikat bagi yang memandang. Itulah agaknya mengapa ia selalu berjalan tertunduk. Ia sadar benar ia punya pesona tak biasa.
Lelaki itu sering menggodanya. Meski masih lumayan sopan jika dibandingkan pengumbar gombal. Terkadang ia sadar ia keterlaluan. Bagaimana pun, sejago apapun mereka menghindar. Dua bola mata setan tak henti mengintai.
Petang itu. Pada sebuah beranda. Saat langit berwarna oranye. Lelaki itu berdiri pada ambang pintu. Menengadah. Seperti mencari entah apa. Pada tempat yang lain. Pun perempuan itu menopang dagu pada bingkai jendela. Melihat entah apa. Kelakuan mereka sama persis. Meraba wajah di kumpulan awan.
Malam menjerang. Pecah juga kata-kata itu. Aku ingin menikah denganmu, katanya. Perempuan tertunduk malu. Ia malu pada bulan yang celurit di perut langit. Aih, bersemu merah.Ia benamkan dalam tundukan wajahnya.
Kau mau? Tanyanya. Tak ada suara. Diam bertanda iya.
Perempuan mengangkat wajahnya pelan. Ia mencari ketulusan di kedua mata lelaki itu. Ah,bagi perempuan itu, mencintai adalah sekali. Tak boleh punya banyak cinta.
Aku mau,jika kau tulus mencintaiku karena Allah. Klise memang. Tapi ini pintaku.
Lelaki tergelak. Ia menahan napasnya sebentar.
Kapan aku bisa menikahimu?
Datanglah dua purnama lagi.
Lelaki tersenyum.
Sebelum itu terjadi. Jangan pernah kirimi aku salammu. Aku hanya ingin membagi cinta untuk suamiku.
Lelaki nelangsa. Itu berat baginya.
Berarti kita berjarak.
Sabar, kata perempuan itu.
Lelaki itu menunduk. Tak berani menatap lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar